Saya H. NURHADI, M.Pd Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Kampar mengucapkan selamat Hari Raya Idil Fitri 1433 H   
Minal Aidin Walfaizhin Mohon Maaf Lahir dan Batin   
Saya H. NURHADI, M.Pd Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Kampar mengucapkan selamat Hari Raya Idil Fitri 1433 H   
Minal Aidin Walfaizhin Mohon Maaf Lahir dan Batin   
Saya H. NURHADI, M.Pd Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Kampar mengucapkan selamat Hari Raya Idil Fitri 1433 H   
Minal Aidin Walfaizhin Mohon Maaf Lahir dan Batin   
Saya H. NURHADI, M.Pd Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Kampar mengucapkan selamat Hari Raya Idil Fitri 1433 H   
Minal Aidin Walfaizhin Mohon Maaf Lahir dan Batin   
Saya H. NURHADI, M.Pd Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Kampar mengucapkan selamat Hari Raya Idil Fitri 1433 H   
Minal Aidin Walfaizhin Mohon Maaf Lahir dan Batin   


Pengunjung Online

- Saat ini 9 guest online

Foto-Foto

This page require Adobe Flash 9.0 (or higher) plug in.

Vinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo SliderVinaora Nivo Slider
Tokoh Kampar PDF Print E-mail
Written by Admin   
Wednesday, 10 October 2012 17:31

 

SEJARAH TOKOH PEJUANG UTAMA DAERAH
KABUPATEN KAMPAR



Penulis    :    ABDUL RIVA’I TALOET, BA
Tahun terbit    :    2005

1. MAHMUD MARZUKI ( Tokoh Pejuang Utama )

Sesuai bunyi semboyan ” Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”. Maka penulis hendak mengetengahkan kisah heroik dari tokoh pendidikan yang poluper dengan sebutan Engku Buya Mahmud Marzuki.


Selanjutnya penulis bermaksud dengan mempublikasikan materi sejarah ini, selain untuk dapat diketahui dan menghargai jasa beliau, sekaligus untuk jadi panutan/panduan bagi kita, terutama bagi generasi muda pewaris penerus perjuangan bangsa indonesia terutama dalam rangka pengisian kemerdekaan yang kini melewati usia setengah abad.


Kiranya tabloid serambi mekkah yang punya kesadaran yang tinggi serta sebagai manifestasi penghargaan terhadap pejuang/ pahlawan bangsa, sengaja menyediakan ruangan untuk mempublikasikan kisah heroik dan patriotik.


Guna mempermudah para pembaca menyerap materi kesehajaan/kepahlawanan yang diketengahkan, maka penulis beberkan secara rinci dan sistemat, sebagai berikut :

A. Kelahiran Dan Pendidikannya

Mahmud Marzuki dilahirkan dikampung  Kumantan, Bangkinang dalam daerah provinsi Riau pada tahun 1915. Ayahnya bernama Pakih Rajo, bekerja sebagai Andemar dan disamping itu anggota partai Serikat Islam. Ia berasal dari Kubang Putih-Bukittinggi. Ibunya bernama Hainah, pekerjaan dagang beras dipasar Bangkinang. Mahmud Marzuki adalah anak tunggal yang hidup dalam kesederhanaan. Ayahnya meninggal dunia sewaktu ia berumur dua tahun. Masih kecil Ia telah yatim.


Pada tahun 1922 sewaktu ia berumur 7 tahun, ia dimasukkan ibunya kesekolah Desa Bangkinang sampai ia menduduki kelas empat. Kemudian ia mengikuti mamaknya Engku Kadhi Rajo bekerja disimpang tiga Pekanbaru selama dua tahun.


Kemudian timbul kembali minatnya untuk belajar, maka dari tahun 1927 sampai tahun 1934 ia masuk mengaji disekolah Tarbiyatul Islamiyah dibawah pimpinan guru Abdul Malik, Mahmud Marzuki meneruskan pelajarannya sehingga sampai menamatkan kelas tujuh.


Oleh karena ia bercita-cita tinggi, terutama ia ingin melihat rakyat terlepas dari belenggu kejahilan dan dari kezaliman penjajah, maka ia bertekad hendak melanjutkan sekolahnya. Dan pada pertengahan tahun 1934 berangkatlah ia (maksudnya) ke India . baru saja sampai ke Selat Panjang, ia telah terlantar karena kehabisan uang biaya perjalanan. Untunglah ada mamaknya didaerah ini yang bekerja sebagai tukang pangkas rambut. Dua bulan ia disini mencari bersama mamaknya. Selama itu sempat pula ia ditangkap polisi karena dituduh menjual korek api tanpa surat izin.


Kemudian dengan bantuan uang biaya yang diberikan mamaknya ia meneruskan perjalanan ke Singapura. Di sini Mahmud Marzuki disambut dan dibantu oleh Abu Bakar yakni salah seorang orang yang berasal dari kampungnya, yang kemudian bermukim di Pekanbaru yang terkenal sebagai H. Abu Bakar pengusaha motor Batang Kampar.


Dengan uang bantuan uang yang diberikan abu bakar tersebut Mahmud Marzuki meneruskan perjalanannya ke parit di Malaysia. Penduduk parit itu pada umumnya berasal dari Kuok, justeru itu mereka menyambut dan melayani Mahmud Marzuki sebagai family mereka sendiri. Di Parit ini sempat Mahmud Marzuki melanjutkan sekolahnya selama setahun.


Tatkala Mahmud Marzuki melihat prestasinya dan menyatakan keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke India, maka oleh masyarakat Kuok (Kampar) disana, menyanggupi membantu biaya perjalanan dan selama berlayar di India. setibanya di India, pertama-tama Mahmud Marzuki memasuki kursus bahasa Undu dan bahasa Arab. Setelah itu barulah ia memasuki salah satu perguruan tinggi di Lahore yakni sejenis sekolah yang didirikan oleh orang kaya India.

B. KARIERNYA


Setelah ia menamatkan sekolahnya pada tahun 1936, berangkatlah Mahmud Marzuki meninggalkan India menuju Indonesia. Sesampainya di Bangkinang, ia disambut baik oleh bekas gurunya dulu yakni H. Abdul Malik, seraya mengangkat Mahmud Marzuki menjadi muptis atau penilik sekolah bagi sekolah-sekolah Tarbiyah Islamiyah yang telah banyak berdiri dikenegrian Air tiris dan Kuok.


selain Mangku penilik sekolah agama, maka untuk perbaikan masyarakat ia bertindak sebagai juru dakwa. Demi belanda memperhatikan bahwa pengaruh mahmud marzuki ini semakin besar,menyebabkan ia curiga, maka jejak langkahnya selalu diikuti oleh reserse belanda.


Sekali peristiwa, belanda mencoba menjebak Mahmud Marzuki. kepada kepala negeri Bangkinang diperintahkan untuk mengundang Mahmud Marzuki dalam rangka memberikan uraian Isra’ dan Mi’raj. Justeru ada alasan bagi Belanda untuk menjerat lehernya. seTelah selesai pertemuan itu, kontler Belanda memanggil Mahmud Marzuki kekantornya dan menasehatkan agar Mahmud Marzuki jangan terlalu banyak berpidato.


Mengingat oleh karena itu sempitnya jalan memberikan pengajian didaerah Bangkinang pada masa itu, maka Mahmud Marzuki lebih mengarahkan dakwahnya kedaerah Airtiris. Lagipula disini banyak teman seperjuangannya seperti ; H. Mhd. Khatib, H.Jaafar, Engku Malik Yahya, Engku Mudo Hamid dan pemimpin-pemimpin Muhammadiyah lainnya. Mahmud Marzuki sangat tertarik kepada Muhammadiyah karena amal bakti dibidang : Sosial, Agama dan Pendidikan yang diselenggarakan dalam organisasi ini. Justeru itu penghujung tahun 1939 ia diangkat menjadi ketua Muhammadiyah cabang kewedanaan Bangkinang.


Dalam kegiatan selanjutnya, pada tahun 1940 Mahmud Marzuki mendirikan sekolah Muhammadiyah di Kumantan Bangkinag. Tapi sayangnya, usaha beliau tersebut kurang mendapat sokongan dari masyarakat kampungnya itu. Pada tahun 1941 Mahmud Marzuki pidah ke Payakumbuh, disamping sebagi guru ia berfungsi sebagai mubaligh sambil terus mendalami ke Muhammadiyahannya, ia bertabligh keberbagai negeri di Sumbar seperti : Payakumbuh, Sliki, Solok, Sulit Air, Pariaman, Bukittingi dan Padang Panjang.


Semakin lama namanya semakin tenar dan sangat digemari orang, sehingga jadilah ia seorang mubakigh yang ulung. Hampir diseluruh Sumatera Barat namanya dikenal orang, lebih-lebih karena isi pidatonya menarik hati, tata bahasanya sederhana dan mempunyai falsafah yang dalam. Adapun teman-teman seperjuangannya di Sumbar ialah : Buya Zulkarnaini, Buya Alimin dan Buya Rasyid. Akan kedudukannnya di Payakumbuh itu tidaklah menyebabkannya mengabaikan tugasnya didaerah Bangkinang (Riau).


Kemudian oleh karena situasi dan keadaan masyarakat di kewedanaan Bangkinang menghendaki tenaganya, maka Mahmud Marzuki diminta kembali kedaerah Limo Koto, kiranya beliau berkenan dan dengan aktif mencurahkan tenaganya. Dengan demikian Muhammadiyah yang tadinya terdiri dari beberapa ranting, sekarang semenjak dibawah pimpinannya dalam waktu relatif singkat telah menjadi 47 ranting, meliputi daerah Limo Koto, terutama di Airtiris, Bangkinang dan Kuok.


Hanya sebagai partnertnya yang ideal dibidang politik, Mahmud Marzuki selalu didampingi oleh H. Mhd. Amin yang pernah menjabat sebagai ketua partai Muslimin indonesia (Parmi) dan kemudian beliau disebut-sebut sebagai salah satu seorang perintis kemerdekaan RI didaerah Kampar. Namun, karena pengurusan untuk mendapat pengakuan resmi dari kantor sosil (yang berwenang memberikan gelar itu), maka sampai saat ini kepada Buya Mahmud Marzuki maka dapat disandangkan prediket “ Perintis Kemerdekaan ” itu. Menyadari hal yang demikian, waktu belakangan ini, anak dan sanak keluarganya, sedang berupaya aktif mengurus pencapaian gelar Perintis Kemerdekaan RI bagi Mahmud Marzuki.


C. Perjuangan Dibidang Politik dan Fisik


Kedatangan tentara Jepang memasuki daerah Bangkinang tidkalah menggemparkan masyarakat, karena Jepang jauh sebelumnya telah memberikan bukujan dan janjji-janji yang muluk-muluk kepada pihak kita Indonesia. Seakan-akan ia tidak hendak memusihi kita, malah hendak bekerja sama dalam menghadapi tentara sekutu, termasuk Belanda yang sedang menjajah kita.


Akan tetapi, setelah memperhatikan bahwa janji Jepang yang muluk itu kenyataannya busuk. Katanya bekerja sama, tapi prakteknya kontra bahkan telah memperlihatkan sikap zalimnya karenanya. Pemimpin-pemimpin didaerah Kampar mulai mengadakan perlawanan lewat organisasi Muhammadiyah, antara lain dengan memberikan Latihan Keterampilan Kepanduan (HW) dan lain-lain.


Dalam hal ini Mahmud Marzuki terus menjalankan perlawanannya. Dapat kita kemukakan bahwa sewaktu penjajahan Jepang ini ada suatu badan yang bernama Cu saniin. Badan badan ini beranggotakan  200 orang Ulama dan berkantor di Pekanbaru. Sebagai mewakili ulama dari daaerah Limo Koto, Ninik-Mamak menunjuk Mahmud Marzuki.


Dengan jatuhnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki Jepang mengaku kalah kepada tentara sekutu. Maka pada tanggal 17 agustus 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Oleh karena hubungan diwaktu itu sulit, maka berita tentang Kemerdekaan RI lambat dan sulit diketahui rakyat di daerah-daerah.


Tapi dalam pada itu sewaktu Mahmud Marzuki dan Mhd. Amin akan sembahyanhg hari Raya, di Simpang Kubu, Airtiris, mereka berdialog sebagai berikut ;

H. Mhd.Amin         : “Sejak sehari dua ini saya merasa heran”
Mahmud Marzuki    : “Kenapa ? apa betul yang mengherankan ?
apa gerangan yang terjadi?
H. Mhd. Amin       : “Bila kita perhatikan sikap Jepang, yang biasanya bersemangat, sekarang kelihatannya lesu dan murung. begitupun mereka biasanya  “ bersorak-sorak dan menepuk-nepuk motor bila ia lalu dijalan raya. Tapi sehari dua ini tidaklah demikian halnya. Saya mengira tentulah mereka ditimpa malapetaka dan kekecewaan yang besar. Jangan-jangan jepang sudah kalah sekarang.
Mahmud Marzuki    : “ kalau Jepang kalah, kita naik lagi!
h. mhd. amin        : ‘ Jadi bagaimana akal? hendaknya kita tahu dalam hal ini”.
Mahmud Marzuki    : “ Menurut hemat saya baiklah kita berangkat ke Bangkinang sekarang”.

Demikianlah dialog mereka dan untuk meyakinkan bagaimana keadaan yang sebenarnya, maka berangkatlah kedua orang pemimpin itu ke Bangkinang. Setibanya didepan kantor Muhammadiyah cabang Bangkinang, maka disonsong  oleh Hasyim yang menjabat sebagi pejabat Muhammadiyah. Ia menjelaskan bahwa ada teks Proklamasi yang ditempelkan orang dimuka kantor. Dalam beliau asyik melihat pengumuman itu dengan tergopoh-gopoh datang menteri pos yang bernama datuk poyok. Secara berbisik-bisik ia menyampaikan kedua pemimpin tadi bahwa ia telah menerima kawat yang menyatakan Indonesia telah merdeka, dan diumumkan oleh Soekarno dan muhammad. Hatta.


Selnjutnya datuk poyok itu berkata : “ kawat ini disuruh sampaikan kepada tuan-tuan”. Dengan demikian jelaslah kepada mereka bahwa Indonesia telah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 dah Syahlah tentara Jepang telah kalah.


Selanjutnya mahmud marzuki bersama pemimpin-pemimpin lainnya mengambil inisiatif akan mengatakan Komperensi. Rapat tersebut diadakan pada hari Kamis , 21 Agustus 1945 bertempat disekolah Muhammadiyah di Muara Jalai. Semua pemimpin Muhammadiyah ranting ( dari Terantang sampai ke Kuok) di undang hadir, ternyata berjumlah 150 orang. Salah satu isi rapat yang terpenting ialah  supaya besok serentak menaikkan bendera merah putih di tempat masing-masing, selanjutnya dan tanggal 24 Agustus 1945 bersama-sama mengibarkan sand dwi warna di muka kantor kontler Bangkinang. Selain daripada itu, rapat juga memutuskan mengutus H.Mhd. Amin dan Mahmud Marzuki untuk meninjau situasi dan kondisi didaerah Pekanbaru dan Sekitarnya.


Sedangkan musyawarah itu berlansung, sekonyong-konyong tentara Jepang datang beserta dengan beberapa orang polisi yang ditaksir berjumlah 30 orang dibawah komandannya Yamamoto. Mereka berhenti diseberang sungai Kampar dekat pasar Airtiris, seraya mengirimkan 2 orang utusan untuk memanggil H.Mhd. Amin dan Mahmud Marzuki yang sedang memimpin rapat. Atas perundingan mereka, sesuai dengann profesi dibidang politik, maka Mahmud Marzuki mempercayakan H. Mhd. Amin untuk menemui dan memutuskan perundingan dengan sang Jepang itu.


Setibanya H. Mhd. Amin dekat Jepang itu, Yamamoto tampil dan lansung menanyakan apa maksud rapat itu diadakan. H. Mhd. Amin dengan terus terang menyatakan isi rapat tersebut, yakni besok serentak mengibarkan bendera merah-putih diseluruh Bangkinang. Dan selambat-lambatnya pada tanggal 4 Agustus 1945 telah menengakkan bendera merah-putih dimuka kantor Bangkinang.


Yamamoto berusaha hendak menggagalkan rapat tersebut, tapi H. Mhd. Amin tidak menerima pernyataan Yamamoto itu, malah memberi saran kepada Yamamoto untuk menghadapi tentara Sekutu dan Belanda yang sewaktu itu ditakutinya. Selepas pertemuan H. Mhd. Amin kembali ketempat rapat dan menceritakan masalah perundingannya dengan Yamamoto tersebut. Rapat kembali diteruskan.


Sebagai untuk merealisir putusan rapat itu, maka tanggal 24 Agustus 1945 dikibarkanlah bendera merah-putih dimuka kontler Bangkinang. semenjak itu dengan diusirnya/diungsikannya demang-demang (kuasa pemerintahan) didaerah Bangkinang, kendali pemerintah diambil alih oleh Mahmud Marzuki dan kawan-kawan.  Hal ini berlansung selama 20 hari.


Dalam pada itu, berdasarkan instruksi dari pusat, maka pada pertengahan September 1945 terbentuklah Komite Nasional Indonesia (KNI) dan Mahmud Marzuki tertunjuk sebagai ketuanya. Dan berbarengan dengan itu didirikan pulalah orpol Pemuda Republik Indonesia (PRI) cabang Bangkinang yang diketuai H. Mhd. Amin.


Pada suatu malam berkumpullah pemimpin-pemimpin KNI dan PRI untuk mengadakan rapat pleno dibawah pimpinan Mahmud Marzuki. Rapat tersebut bertujuan untuk menyusun program pemerintahan dan gerak langkah perjuangan. Disamping itu juga dimaksudkan untuk menyambut wedana Bangkinang yang baru, yakni Bahrun Syah. Rapat tersebut baru selesai jam 4 subuh.


Kiranya, sejak jam 3.00, tempat rapat tersebut telah dikepung oleh satu batallion Jepang bersenjata lengkap. Tentara Jepang menangkap pemimpin-pemimpin yang baru selesai rapat itu. Dari sejumlah 36 orang itu tertangkap 13 orang termasuk Mahmud Marzuki, H. Mhd. Amin serta para wedana dan lain-lain. Siang itu Jepang membawa pemimpin-pemimpin kita itu ke Pekanbaru. Di perjalanan rakyat siap untuk menyerang Jepang tersebut dengan senjata lengkap. Rakyat yang menghadang itu ditembak jepang, dan 12 orang korban dipihak kita serta beberapa orang luka-luka. Sesampai di Pekanbaru, pemimpin kita itu ditahan dan disiksa, dipukul dan lain sebagainya. Terhadap Mahmud Marzuki dan H. Mhd. Amin Jepang teramat zalim. Dada dan kepalanya diinjak-injak, punggunggnya dipukul dengan kayu berduri, kemulutnya dituangkan air sabun, kepalanya dibanam-banam, caci maki dan hantam bagero tak henti-hentinya. Sehingga dari punggung dan dadanya keluar darah. Mereka tidak diberi makan selama tiga hari. Hari-hari berikutnya hanya diberi nasi sekepal seorang yang dilumuru sedikit garam. Setelah 51 hari dalam tahanan, barulah pemimpin-pemimpin itu dibebaskan dan kembali ke Bangkinang. Mereka disambut rakyat dengan air mata gembira. menurut keterangan kawan-kawan Mahmud Marzuki yang masih hidup, dalam rangka penyambutan mereka, telah disembelih belasan ekor kerbau dan seratus lima puluh ekor kambing sebagai membayar nazar guna keselamatan pemimpin-pemimpin yang ditahan itu.

D. AKHIR KEHIDUPAN


Meskipun semenjak Mahmud Marzuki disiksa Jepang kesehatan selalu terganggu, namun sedikitpun semangatnya tidak kendor, setapakpun ia tak hendak mundur, ia senantiasa meneruskan usahanya, baik ia sebagai mubaligh dan maupun sebagai pejuang.


Tidaklah akan berlebih-lebihan jika terhadap Mahmud Marzuki diberi julukan dengan “ Tokoh Pendidikan, juga Dakwah, Politikus Islam, Pejuang Ulung”, karena apa yang dikemukakan ini bukanlah isapan jempol, tapi bertolak dari kenyataan yang terdamba dihati banyak orang, yang tersemai dilingkungan masyarakat ramai.


Yang kita kemukakan diatas, itu prediketnya. Dan bila kita baca pribadinya serta kemampuannya, maka kita akan mengakuinya, jika kita tidak hendak menipu diri sendiri. Agar lebih jelas marilah kita kekas sifatnya yang khas itu :
1. Berjiwa besar/ pelopor
2. Ahli ilmu agama (ulama)
3. Tabah dan tawakkal
4. Tunggang dalam berkorban
5. Keras hati dan istiqomah
6. Bersemangat tak kunjung padam (ksatria)
7. Berotak cerdas
8. Rendah hati
9. Berani
10.Idealis


Begitupun yang bersifat kekaryaan, antara lain dapat pula kita uraikan sebagai berikut :
1. Ahli pidato / juru Dakwah / Propogandis, justeru itulah banyak pecintanya dan diakui keulungannya, baik di Riau maupun Sumatera Barat.
2. Pelopor / Tokoh dalam Pendidikan, terbukti ia sebagai guru di Payakumbuh, pendiri sekolah dikampungnya, menjabat penilik sekolah agama sekewedanaan Bangkinang.
3. Ahli organisasi, terbukti ia memegang pimpinan Muhammadiyah kewedanaan Bangkinang, bahkan meliputi Limo Koto.
4. Bercita-cita tinggi, terbukti dengan kelanjutan sekolahnya di India.
5. Setia menepati janji, yakni tak mau mungkir dan konsekwen menepati pada waktu tertentu.
6. Pejuang (Pisabilillah), amar Makruf  Nahi Mungkar, terbukti dengan taktiknya memasuki ”Suluk Yang Sesat” didaerah Bangkinang, untuk kemudian membetulkannya / memurnikannya. Begitupun atas tunjukan Ninik Mamak Limo Koto, beliau jadi utusan atau perwakilan ulama dalam Cu Saniin ( kesatuan Ulama dalam / semasa Jepang, yang beranggotakan 200 orang yang berkantor di Pekanbaru.
7. Setia pada Negara, terbukti sewaktu awal Kemerdekaan, ia bersedia memegang kendali Pemerintahan dalam daerah kewedanaan Bangkinang.
8.Selanjutnya sedia dan aktif selaku ketua Komite Nasional Indonesai(KNI).

Sedemikianlah penulis beberkan; sesuai iinformasi yang diperoleh. Bila dinilai seacra objektif, tidaklah keterlaluan, jika Prof. Dr. Hamka yang pernah bergaul dengan Mahmud Marzuki mengakui (sekitar tahun 1946) akan keahliannya berpidato dan sikap kepahlawanan Mahmud Marzuki.
Sayang seribu kali sayang, tuhan yang maha Esa jualah yang menentukan takdir. Pada umumnya, tiap-tiap sesuatu itu ada sebab musababnya. Begitupun mengenai diri Mahmud Marzuki, mungkin karena terlalu memforsir tenaga, tak kenal lelah siang dan malam, lagi pula sejak ia ditahan dan disiksa jepang, telah selalu ia sakit-akitan.


Maka akhirnya, pada tanggal 5 Agustus 1946, bertepatan dengan 4 Rosadhan jam 06.00 malam, beliau berpulang kerahmatullah. Dan jenazahnya dimakamkan dimuka sekolah Muallimin Kumantan Bangkinang, Kabupaten Kampar.
Mahmud Marzuki pergi meninggalkan beberapa orang anak dan seorang isteri. Yang disayangkan, ia meninggalkan: Rakyat, Masyarakat dan Negara Indonesia yang dicintainya.


Ia meninggalkan bermacam-macam benih yang telah disemai, tapi ia belum sempat menuai. Beliau tinggalkan berbagai bengkalai yang memerlukan kecepatan tangan dan keringanan tangan orang yang pandai menghargai.


Bagi orang didaerah kewedanaan Bangkinang, malah Limo Koto pada khususnya, bahkan lebih luas lagi, Riau dan Sumatera Barat, Mahmud Marzuki adalah salah seorang pemimpin yang berkemampuan banyak dan tinggi nilainya. Berdasarkan profesi karya dan jasa-jasanya beliau tergolong selaku :
1. Tokkoh Pendidikan
2. Tokoh Pelopor Pengembangan Agama
3. Tokoh Politik
4. Tokoh Pejuaan Phisik
5. Tokoh Yang Ikut Merintis Kemerdekaan Negara Republik Iindonesia

Sekarang, bila seperti saat-saat bulan November, mendatang, maka kenangan kembalai berulang, menggema, melambai syahdu, teringat kepada mereka para pejuang para pejuang bangsa yang diungkapkan dengan bidal” Harimau Mati Meninggalkan Belang, Gajah Mati Meninggalkan Gading dan Manusia Mati Meninggalkan Jasa. Demikian pula Buya Mahmud Marzuki dan pejuang/ pahlawan bangsa lainnya.
Memang bagaikan “Permata Delima”, sukar dicari, mahal dibeli, satu dalam sejuta. Dan kepergian mereka bukan untuk berlarut diratapi. Bangsa dan Tanah Air Indonesia menghendaki “Patah Tumbuh, Hilang Berganti”.
Negara dan nilai-nilai luhur 1945 menghendaki penerusan urusan melanjutkan bengkalai hingga selesai. Itulah yang pada hakekatnya tindak lanjut pembangunaan dalm segala aspek hidup dan kehidupan.

2. A. LATIF DT. BANDARO SAKTI ( TOKOH SOSIAL KEMASYARAKATAN)

A. Asal Kelahirannya


Nama kecilnya abdul latif, kemudian digelari Dt. Bandaro Sakti. A. Latif Dt. Bandaro sakti lahir di kp. Langgini tahun 1901.
Ayahnya bernama ahmad. Orang jawa timur tepatnya dari tulung agung pencahariannya bertani.
Ibu beliau bernama dani. gelar H. Mariam. suku mandahiling, asal kp Langgini, Bangkinang.
Sesuai dengan garis keturunannya, Dt. Bandaro sakti bersuku menurut ibunya yakni mandahiling (tergolong suku domo).
Abdul latif  Dt. Bandaro sakti ada enam bersaudara ( 3 Laki-laki, 3 Perempuan) yakni A. Latif, H.Zaindudin, H. M. Nur, H. Jamiah, H.Fatimah dan H.Aminah.

B. Sifat –sifatnya


Abdul Latif mempunyai sifat-sifat yang terpuji, antara lain
1. Sosial
2. Keras hati
3. Berjiwa besar/merdeka
4. Berani
5. Suka membela orang yang teraniaya
6. Berwibawa
7. Dan adil disegani oleh orang lain

Hobynya atau keahliannya main Domino, main Bola Kaki, bersilat dan memiliki ilmu kebatinan yang tangguh, terampil serta tinggi jauh lompatannya, sehingga populer disebut orang jauh “ Lompatnya Sekayu Kain”.

C. Pendidikannya


Abdul Latif dimasukkan sekolah Goveernemen pada usia 8 tahun dan menamatkan SD kelas V di Bangkinang. Ia bermaksud hendak melanjutkan sekolahnya ke H.I.S di Bangkinang, tetapi karena tidak anak bangsawan, maka tidak berhak mengecap pendidikan yang agak tinggi, justeru itu tidak dibenarkan oleh kontler (wedana) Belanda yang waktu itu sedang menjajah bangsa kita.


Kira-kira setahun lamanya Abdul Latif menganggur. Berhubung oleh kuat minatnya hendak melanjtkan sekolah, maka atas ajakan iparnya Martowijoyo Wagimin (suami kakaknya H. Jamiah) yang juga berasal dari Jawa yang sewaktu itu jabatannya Menteri Ukuir pada pemerintahan Belanda.
Setibanya Dt. Bandaro Sakti beserta iparnya di Jawa, ia dimasukkan pada sekolah Amboes School ( sekolah tukang) di Batavia. Setamatnya dari sekolah tersebut, beliau sudah menetap di Batavia.


Dalam kurun waktu ia memasuki kursus keterampilan. Dalam keadaan demikian tiba-tiba datang orang Bangkinang yang hendak menjemputnya.

D. Perjuangannya


Adapun sebab musabab maka ia dijemput terbawa oleh familynya ke Bangkinang, dimaksudkan agar ia mau menjabat jadi sambutan Dt. Bandaro Sati ( pucuk adat Kenegrian Bangkinang). Yang pada waktu itu pemangku jabatan tersebut adalah Dt. Bandaro Sati Taratib Relah tua dan Dt. Majelelo Maninggal.

Setelah tibanya di Bangkinang pada tahun 192, maka langsung ia diangkat jadi penghulu dengan gelar Dt. Mojolelo,kira-kira  selam 4 tahun. Sewaktu taratib meninggal, Abdul Latib lansung diangkat menjadi Dt. Bandaro Sakti yang fungsinya selain sebagai pucuk adat juga sebagi pucuk negeri Bangkinang, juga sebagai pucuk nagari Limo Koto.


Guna untukjaminan hidupnya, sesuai dengan pendidikan yang dimilikinya,lagi pula ada hubungan baik ayahnya dengan pemerintah Belanda, maka Abdul Latib dapat diterima bekerja sebagai Lerhing (pembantu juru tulis ) dikantor kontler, dan setelah dua tahun pada jabatan tersebut, ia diangkat Khalap Scaefer (juru tulis kontler).


Setelah 2 tahun pula pada jabatan tersebut beliau diangkat jadi juru tulis tetapdan pindah kekantor distrik hop di bangkinang.
Oleh karena belanda, sesuai dengan fungsinya sebagai penjajah yang senantiasa menekan dan memeaksa terhadap bangsa kita, oleh Dt. Bandaro sati dirasakan sebagai suatu tindakan yang tidak manusiawi, justeru itu selalu ditantang dan diingkarinya, yang menyebabkan selalu terjadi ketegangan dan sangketa dengan pihak Belanda. Oleh karena itu, kenaikan pangkatnya ditahan / terlambat.


Sekali peristiwa, demang yang menganggappara pemukulcabang dikampung-kampung teledor akan tugasnya, dalam rangka mengerahkan tenaga pekerja rodi, makamereka di panggl kekantordan beberapa hari dihukum taujang, tanpa ada yang perkaranya diperiksa.


Memperhatikan keadaan rakyat yang lemah dan miskin diperlakukan tidak wajar demikian, Dt.Bandaro Sati meras jengkel kepada demang, maka dengan serta merta mereka dibebaskan dan disuruh pulang kerumah masing-masiing.


Mengetahui akan tindakan Dt.Bandaro Sati demikian, yang mendahului atau mengatasi wewenang demang, maka demang yang merasakan terhina lalu melaporkan Dt.Bandaro Sati kepada Kontler.


Kontler menguka perkara tersebut dan diadakan perdamaian.Namun tak lama kemudian beliaudipindahkan ke Sumatera Est Cust.
Beberapa lama kemudian Dt.Bandaro Sati diangkat menjadi wedana dibatu bersurat (Onderdistrik). Kemudian dipindahkan pula menjadi wedana di Suliki (dari Suliki selanjutnya ke Painam)


Sewaktu dia menjadi wedana di Suliki ini Dt.Bandaro Sati pernah meninju kepala polisi Belanda yang bertindak kejam dan kasar, kepala polisi tersebut terpelanting kira-kira 15 depa, kena tinju yang bagai halilintar itu.


Adapun pangkal sangketa tersebut, ialah karena Dt.Bandaro Satiyang sewaktu itu diberikan tugas untuk mengeluarkan izin senjata, oleh sebab satu dan lain hal terlambat, maka ia dibantak dan dimarahi kepala polisi tersebut. Beliau merasa tersinggung dan menantang hingga terjdilah duel, yang akibat kejadian itu Dt.Bandaro Sati ditahan oleh pemerintahan Belanda.


Sewaktu Jepang masuk dan dapat mengalahkan Belanda, maka Dt.Bandaro Sati dibebaskan dari penjara bersama tahanan lainnya, seraya beliau kembali ke Bangkinang.


Jabatannya dalam adat dibidang Ninik-Mamak (yang sementara ia menjadi pegawai pada pemerintahan diperantauan), dijabat oleh Yahya Dt. Majolelo, kemudian dipangkunya kembali.


Dt.Bandaro Sati antara lain mempunyai daerah tanah wilayah yang luas, dari ridan kelombrong berbatas dengan wilayah Dt.Bandaro hitam dan berbatas dengan wilayah Dt. Indokomo di Airtiris.


Adapun jabatan dan perjuangan –perjuangan lainnya yang penting dan berkesan diantaranya ialah :

1. Sekitar tahun 30an, Dt. Bandaro Sakti beserta Dt. Mantege handal di batu bersurat pergi menaklukan orang ambon yang biadab dan lalim didaerah Padang Mangatas. Dengan memakai rantai babi yang dipinjamnya dari seorang janda di batu bersurat, ia tampil menghadang kepala bidang peternakan tersebut, dimana selama ini tidak ada orang yang sanggup menentangnya.
Dalam duel tersebut Dt. Bandaro Sati dapat menaklukan orang ambon yang memperkosa kemenakan angkatnya disana itu. Kemudian khalayak ramai didaerah tersebutbersama-sama mengeroyok dan menyiksa orang ambon yang zalim tersebuat hingga menemui ajalnya.
Rakyat Padang Mangatas dan sekitarnya itu mengaturkan terima kasih kepada Dt.Bandaro Sati dan Dt. Mantega atas jasa mereka membasmi mengalahkan penguasa yang zalim tersebut.
2. Disamping ia menjadi wedana di Batu Bersurat ( Kecamatan XIII Koto Kampar). Dt.Bandaro Sati juga pernah menjadi KPG (Komando Pangkalan Gerilya)
3. Dt.Bandaro Sati ikut membunuh Jepang sewaktu Jepang memasuki Bangkinang tahun 1942.
4. Ia pernah diangkatmenjadi ketua PNI Kab. Kampar pada tahun 1960 an.
5. Dt.Bandaro Sati tertunjuk sebagai salah seorang yang menjadi panitia desentralisasi kewedanan Bangkinang bersama A. Malik Yahya, H.M. Amin. Dt. Majolelo dan lain-lain, yang ikut berjuang untuk penentuan status dan nama daerah Kabupaten ini. Usulnya  Dt.Bandaro Sati daerah ini dinamakan Kabupaten Kampar, didukung oleh Dt. Majolelo dan dikuatkan oleh A. Malik Yahya sehingga berhasil disetujui oleh anggota sidang pada tahun 1962 di Bangkinang. Ikut membantu melayani kedatangan presiden PDRI (Safrudin Prawira Negara) ke Bangkinang di Suru Ubudiyah Bangkinang.
6. Dt.Bandaro Sati banyak memperlopori pembangunan di daerah Kampar antar lain :
• Gedung mesin listrik Bangkinang.
• Pembangunan rakit Kampung Gadang
• Pembangunan SGB dan SMP Bangkinang
• Pembangunan pasar Bangkinang
• Membuka tambang timah di Siabu dan Balung
• Banyak memberikan bantuan tanah-tanah wilayatnya,untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan taempat-tempat bangunan pemerintah di ibu kota Kabupaten Kampar ( Bangkinang dan sekitarnya).


E. Kawan - Kawan Seperjuangannya


Dt.Bandaro Sati mempunyai banyak temannya :
1. H. m. AMIN
2. Jamad Dt. Sunguik
3. A.malik yahya
4. Rifin ruslan
5. Hamzah dt.padukowarik
6. Hamzah yunus
7. Dan lain-lain.

F. AKHIR HIDUPNYA

Dt. Bandaro Sati meninggal pada tahun 1984. Pada usia 83 tahun. Dikebumikan dibelakang mesjid Ubudiyah pasar Bangkinang.
Beliau semasa hidupnya mempunyai 4 orang istri yakni : Rabiah, Masnah, Isa dan Mariana.
Ia meninggalkan 12 orang anak. Setelah ia berpulang keramatullah jabatan selaku pucuk nagari Bangkinang pada pucuk daerah Limo Koto dipegang oleh Drs.Amir Lutfi.
Bangkinang, oktober 1997


3. MAYOR ABD LATIF (KOMANDAN PASUKAN HARIMAU KAMPAR)


A. Kelahirannya


Abd. Latif lahir pada tahun 1917 di Binamang Pasir Pengarayan. Ayahnya bernama Mursyi, pekerjaannya bertani. Dia ada tiga orang adik beradik (bersaudara)yakni : yang tua Miyasni : yang tengah Ashin dan yang bungsu Abd.Latif. Ayahnya dan Ibu Abd.Latif taat beragama Islam, berpengaruh kepada pendidikan / pribadi Abd.Latif.

B. Pendidikannya


1. Masuk sekolah dasar pada usia 8tahun dipasir pengarayan disamping itu pendidikan agama dirumah tangga oleh orang tuanya.
2. Tahun 1930meanjutkan pendidikan di Mualimin Padang Sidempuan. Setelah belajar 5 tahun , ia menamatkan sekolah tersebut.
3. Tahun1936 masuk kursus ketermapilan menjahit dan menamatkannya setelah dua tahun dengan berolah ijazah.
4. Kuliah ke normal islam di Padang kota tahun 1940, menjelang tk.III. oleh karena Jepang masuk tahun 1942, maka Abd. Latif berhenti kuliah, lalu masuk latihan tentara.
Adapun teman-temannya semasa kuliah di normal adalah :
• Ismail Hasan (dari Bukittinggi)
• Abas Hasan ( dari Payakumbuh seorang pengarang)

C. Perjuangannya


a. Jabatan-jabatan mayor Abd.Latif


Gelar / pangkat Mayor (berstatus militer ) diberikan kepada Abd. Latif akhir tahun 1945.. Tanggal 1 Maret 1946 mayor Abd. Latif diangkat jadi komandan battalion pada resimen istimewa komandan Sumatera di fron Padang.


Pada tanggal 20 Januari 1947 seluruh batallion Abd. Latif dimasukkan ke resimen mayor Agus Salim Komandan resimen istimewa residen Sumatera di Payakumbuh mayor Umar Tamin.


Ketiga komandan tersebut bersatu dalam resimen komandan Sumatera berpusat di Bukittinggi. Selain jabatan komandan dipadang, mayor Abd. Latif diangkat menjadi wakil kepala persenjataan resimen tersebut untuk seluruh daerah resimen itu.


Pada 30 Januari 1948 mayor Abd. Latif ditugaskan oleh mayor Agus Salim (komandan) ke Bagan Siapi-Api dan ke Kepulauan Riau untuk membelis enjata. Senjata tersebut dapat dibeli mayor Abd. Latif di Bagan Siapi-Api.


Sewaktu senjata tersebut sampai ke Pekanbaru, bertepatan dengan tibanya Belanda di Pekanbaru. Senjata tersebut kena periksa oleh CPM di Pekanbaru, antara lain CPM itu bernama kopral Ali Imran.


Disebabkan menahan senjata tersebut ia dihukum, yakni dicukur dan senjata tersebut ditahan / tinggal di Pekanbaru. Selanjutnya kopral Ali Amran bergabung dengan mayor Abd. Latif pada waktu itu komandan pangkalan gerilya mayor Akil dan mayor Abd. Latif disamping sebagai wakil komandan gerilya, ia bertugas pula sebagai komandan pasukan Harimau Kampar.


Bahrum Arief selaku ketua dapur umum disamping ia sebagai Camat Bangkinang, begitupun Arifin Ruslan ikut bertugas / berjuang pada waktu tertentu, terutama disegi politik.

b. Pertempuran Sengit yang Dialami Mayor Abd. Latif

1. Pertempuran di Padang,

Dijalan lapangan ke Tabing pada peristiwa agresi Belanda pada tahun 1947. Pada waktu itu mayor Abd. Latif selaku komandan battalion dengan anggota pasukan lebih kurang 500 orang yang pada umumnya tertera pelajar dari normal relawan kota. Pada pertempuran itu kaki kiri mayor Abd. Latif kena tembak oleh Belanda. Disamping pasukan mayor Abd. Latif dipadang ada pasukan Harimau Keranji dengan komandan mayor Jamaludin. Mayor Abd. Latif dipadang hanya sampai tingkat III normal, karena pada waktu itu penjajahan Jepang telah masuk ke Padang. Dia ikut latihan militer dari Jepang tersebut.


2. Pertempuran di Rantau Berangin.


Pertempuran melawan agresi Belanda ke-II, tanggal 12 Januari 1949, pada hari Jumat pagi. Setelah bertempur 6 jam ( dari jam 12 malam s/d jam 6 pagi ). Rantau berangin dapat direbut oleh pasukan kita. Bahwa medan perang dapat dikuasai dari jam 9 pagi s / d jam 12 siang. Pertahanan pasukan mayor Abd. Latif di bukit Labuhan Batu, Rantau Berangin. Pada waktu pertempuran itu anggota pasukan mayor Abd. Latif yakni, pasukan Harimau Kampar berjumlah 450 orang.


Perlu kiranya dijelaskan disini, bahwa sebelum mayor Abd. Latif melakukan pertempuran sebagaimana yang dijelaskan diatas, sewaktu mayor Abd. Latif pulang dari Bagan Siapi-Api, dimana senjata yang akan dibawa kepadang telah ditahan di Pekanbaru, dan sewaktu itu menuju Padang ke induk pasukan resimen komandan Sumatera, dia dicegat oleh polisi di Bangkinag sewaktu mayor Abd. Latif ditanya polisi, ia mengatakan bahwa dia jadi komandan resimen pada kota Padang. Menanggapi wewenang / kemampuan mayor Abd. Latif serta pertimbangan bahwa dia itu orang Pasir Pengarayan, maka polisi tersebut meminta supaya mayor Abd. Latif mau memimpin perjuangan didaerah Kampar dan orang-orang yang akan jadi anak buahnya, yang terdiri dari Polisi, Tentara, CPM, Angkatan Udara, Angkatan Darat dan dari Rakyat setempat, sejumlah 450 orang, Harimau Kampar, yang tadi telah dinyatakan berjuang melawan agresi Belanda di Rantau Berangin yang telah memenangkan pertempuran tersebut.


Setelah beberapa lama mayor Abd. Latif selaku komandan pasukan gerilya Harimau Kampar, serta merta tibalah pasukan brimob yang dipimpin oleh kapten Y. Silalahi yang beranggotakan 50 orang berkedudukan benteng harapan pulau Gadang.


Oleh mayor Akil selaku komandan gerilya Riau Daratan, karena anak buah kapten Y. Silalahi terlalu sedikit, maka dimintanya supaya anak buah Mayor Abd. Latif dibagi, sebagian diberikan untuk anggota pasukan mobil brigadir yang dipimpin Y. Silalahi.


Oleh Mayor Abd. Latif perintah mayor Akil tersebut disampaikan kepada anak buahnya, siapa yang mau pindah kepasukan Y. Silalahi. Dari jumlah yang 450 orang itu yang mau pindah hanyalah 15 orang, selebihnya tak mau pindah karena ;lebih yakin dengan pimpinan Mayor Abd. Latif, yakni tetap pada pasukan Harimau Kampar.


3. Pertempuran di Danau Bingkuang


Pada Tahun 1949 pasukan Harimau Kampar melawan pasukan agressi Belanda yang jumlahnya ribuan orang.
adapun pihak pasukan Harimau Kampar hanya 435 orang yang dipimpin oleh Mayor Abd. Latif anggota pasukan Mayor Abd. Latif telah gentar karena banyaknya lawan yang dihadapi.


Melihat hal tersebut Mayor Abd. Latif maju kedepan dan dengan sikap berdiri dia menghadang penyerangan Belanda. Anak buahnya disuruh tiarap.
Seterusnya Mayor Abd. Latif berdoa, dalam pada itu pasukan belanda menghujani Mayor Abd. Latif dengan pelurunya, namun beliau yang waktu itu berselempang warna merah tak kena oleh peluru belanda itu. Karena Mayor Abd. Latif tak kena atau tak mempan peluru, maka pihak Belanda memaki-maki, katanya “Komandannya kurang ajar”.


Adapun ternyata pihak Belanda banyak tentara bayaran pada pertempuran tersebut. Pihak Belanda banyak yang mati. Sedangkan pasukan kita yakni yang dari Angkatan Udara dan Jakarta tertembak pada pahanya, kemudian diselamatkan.


Perlawanan / pertempuran di Danau Bingkuang dan sekitarnya itu berlansung selama 1 minggu. Akhirnya Belanda mundur.

4.Peristiwa Penembakan Tentara Belanda di sungai Kampar di Bangkinang.


Sewaktu pasukan Belanda pada agresi Belanda ke II mandi di Sungai Kampar, yakni tentara bayaran sekonyong-konyong diserobot oleh pasukan Harimau Kampar. Tentara Belanda dibiarkan menyeberang, tiba ditengah sungai Kampar, maka pasukan Harimau Kampar menembaknya sehingga banyak tentara Belanda yang korban.


5. Pertempuran di Sungai Betung.


Dalam pertempuran pasukan Harimau Kampar dengan pasukan Belanda pada agresi Belanda ke-II Mayor Abd. Latif menderita sakit dada, sulit bernafas kemudian dikenai pula oleh demam panas. Beliau berobat dalam kawalan anak buahnya selam 2 bulan di fron sehingga tanggal 21 Desember 1949 beliau diperintahkan berobat ke Jakarta oleh Mayor Akil, namun belum jadi pergi, tapi pulang ke kampungnya. Barulah bulan Maret 1950 ia pergi berobat ke Rumah Sakit Angkatan Darat di Jakarta.

D. PENJELASAN TAMBAHAN MENGENAI MAYOR ABD. LATIF

Setelah di padang Mayor Abd. Latif dipercayakan dengan jabatan resimen istimewa komandan Sumatera. Di daerah Riau, tepatnya di daerah kampar Mayor Abd. Latif dipercayakan sebagai komandan pasukan Harimau Kampar, yakni komandan pasukan 101 Harimau Kampar daerah kuasanya fron Pulau Gadang dan Rantau Berangin. Di pihak TNI ditunjuk kapten J. Silalahi, pihak Brimob Tugimin.


Adapun tentara yang dibawahi oleh Mayor Abd. Latif ialah :
• Tentara Sabilillah dari masyarakat
• Tentara Hizbullah dari lasykar

Bagi anggota pasukan yang tidak bertugas di fron, mereka bertugas sebagai BPNK di Rokan.
Komandan Kompi Sabilillah ialah Saleh
Komandan Hizbullah Kapten Salim

adapun tentara Sabilillah berjumlah 38 orang antara lain sebagai berikut :
1. Amrullah ( Dari Rokan)
2. Anas Bey (Dari H. Bendahara)
3. Ahmad Mukhtar (Dari Rokan)
4. Barmawi (Dari Rokan)
5. Gazali M( Dari Rokan)
6. Samsuri Amin ( Dari Rokan)
7. Gazali Salim ( Dari Rokan)
8. Mhd. Ali ( Dari Rokan)
9. Abdullah D ( Dari Rokan)

Tentara bizbullah, yang dari rokan antara lain ialah :
1. Abdul Amir
2. Rahmat
3. Talib Bey
4. Talib M
5. Sukiman
6. M. Jalil S
7. Burhan
8. M. Zein
9. Mhd. Saleh

latihan kedua pasukan tersebut diadakan di Rokan tahun 1947 berjuang melawan Belanda (kelas ke- II) tahun 1948 / 1949 s / d penyerahan kedaulatan.

Penjelasan Kepangkatan / jabatan
Mayor Abd. Latif menamang sebagai berikut :
1. Pangkat / jabatannya di Padang selaku resimen istimewa komandan Sumatera.
2. Tiba di Bangkinang Mayor Abd. Latif yang bertugas sebagai komandan pasukan Harimau Kampar kebetulan sama pangkatnya dengan komandannya / atasannya, yakni Mayor Abd. Akil yang menjabat selaku komandan pasukan gerilya Riau Daratan, maka pangkat Mayor Abd. Latif diturunkan menjad Lettu.

Selain selaku komandan pasukan Harimau Kumbang Kampar, beliau merangkap sebagai wakil komandan pangkalan gerilya Riau, berkedudukan di Bangkinang.

E. AKHIR KEHIDUPANNYA

Setelah bertempur di sg. Balung tahun 1949, beliau menderita sakit dada, pada waktu itu ia bertugas di fron pasukan Harimau Kampar. Mayor Abd. Latif dirawat di Kuok, dengan rawatan mayor Akil dengan suplay makanan dari kapten Raden Sukmana. selanjutnya berobat pulang ke Pasir Pengarayan selama 40 hari. pada bulan Maret 1950 atas perintah mayor Akil beliau berobat ke RSPAD pusat di Jakarta. Di samping itu juga di Rumah Sakit Yustera di Bandung.
Mayor Abd. Latif Manamang meninggal dunia pada tanggal 22 Oktober 1972 , di Bandung dalam usia 55 tahun, dikebumikan di Cimahi Bandung.

F.PENINGGALANNYA
1.Istri bernama Aisyah Syam
2.anak 4 oarang yakni :

  • Rusli hana
  • Syahrizal
  • Nurhayati
  • Wahdah

3.Anak buahnya :

  • Kapten Ali Amran
  • Yusuf (orang Maninjau)
  • Tanius (Orang Padang)
  • Let. Nyato Abidin ( Orang Bangkinang)
  • Kapten Amir
  • Husin Tarmizi (Orang Kuok)
  • Asahi ( Dari Au)
  • Gazali ( Orang Lubuk )


Riwayat ringkas istri Mayor Abd. Latif, yakni Aisyah sebagai berikut :
Tempat Tanggal Lahir    : Manaming, Kec. Rambah Pasir Pengarayan pada hari Kamis bulan Ramadhan Tahun 1936
Ayahnya     : Syamsuddin ( Bekas Polisi Pasir Pengarayan)
Ibunya       : Gandariya (orang Pasir Pengaraian)
Bersaudara 2 orang    : Kakaknya meninggal waktu kecil Aisyah yang Bungsu.

Pendidikannya :
1. SD
2. Diniyah Puteri Padang Panjang s / d kelas 6
3. Kursus Keterampilan Menjahit, Memasak dan lain-lain, Berijazah.

Perkawinannya :
Aisyah Syam kawin dengan Mayor Abd. Latif Tahun 1948 di Pasir Pengarayan. Demikianlah riwayat hidup dan kisah perjuangan yang dinilai salah seorang tokoh perjuangan utama didaerah Kampar khususnya, daerah Riau pada umumnya dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa dan Negara.
Meskipun Mayor Abd. Latif manamang telah berpulang ke rahmatullah, namun jasanya tetap teringat dan tertulis dilembaran sejarah perjuangan bangsa, sesuai bunyi peribahasa “Gajah Mati Meninggalkan Gading, Manusia Mati Meninggalkan Jasa”.

4. SYEKH H. ABD. GANI AL-CHALIDI (TOKOH PENGEMBANGAN AGAMA DAN PELOPOR PENDIDIKAN)

A. Asal Dan Kelahirannya

Lahir Syech H. Abd. Gani di Koto Tengah, Batu Bersurat Kec. XIII Koto Kampar tanggal 7 Januari 1811. Sukunya melayu Rangkayo besar. Ayahnya H. Abd. Salam, berasal dari Pangkalan Kt. Baru. Pekerjaan / pencahariannya dagang. Ibunya suku melayu Rangkayo besar.
Syech H. Abd. Gani 1 ayah 2 (dua) beradik, 1 ibu 1 orang, adik ayahnya H. Mhd. Ali. menantunya H. Suleman, mertuanya Abd. Yusuf Cahlidi.

B. Masa Kecilnya

Sekira Syech H. Abd. Gani berusia 12 tahun, dia dibawa oleh ayahnya ke Mekkah melaksanakan haji kecil, karena alat perhubungan ke Mekkah pada waktu itu adalah berlayar naik kapal, pulang-pergi memakan waktu 6 bulan.


Selagi Gani masih kecil, pendidikannya seperti lumrahnya dilakukan oleh ibu dan ayahnya. Belajar Qur’an, juz ‘amma, tauhid, fiqih dan akhlak. Disamping itu dengan menegakkan contoh keteladanan yang baik.


Lagi pula A. Gani selalu mengiktui ayahnya yang selalu kian- kemari maklumlah sebagai seorang pedagang, beliau repot menghadapi berbagai hal, pada umumnya mampu diatasinya. Dengan demikian secara tidak lansung dapat menambah wawasan A. Gani.

C. Pendidikannya

1. Sewaktu kecil A. Gani dididik oleh orang tua, dia diajak membaca Alqur’an, bacaan dan cara sembahyang, oleh ayah-bundanya. Begitupun ilmu agama keperluan harian serta contoh tauladan yang baik.


2. Selanjutnya sekolah pada pondok pesantren di Taram, Payakumbuh, sehingga menamatkan kelas 7.


3. Ia melanjutkan ke Tsanawiyah di PD. Pariaman


4. Dalam rangka untuk menambah ilmu dan pengalamannya, sewaktu ia berusia 12 tahun ayahnya membawanya naik haji ke Mekkah. Dalam masa 6 bulan pergi-pulang ke Mekkah, ilmu pengetahuannya semakin bertambah, dengan demikian sekaligus ia telah melakukan naik haji ( dikenal dengan haji kecil).


5. Sepulangnya dari Mekkah, ayahnya mengajarkannya berdagang, setelah memberikan ajaran tentang cara-cara berniaga, lalu dipraktekkan dengan cara sebagai berikut ;
Kepada Abd. Gani diberikan sebuah perahu Kajang dari Siburuang (Subaling) perahu diisi dengan beras, untuk dijual ke negeri-negeri kearah hilir sampai Kampar hingga sampai ke Danau Bingkuang. Hadap ke mudik dari Danau Bingkuang dibelinya : barang kelontong, kain dan barang makanan harian. demikianlah dagangan Abd. Gani berjalan lancar selama 2 tahun.
Di daerah Subaling, disamping ayahnya, ada seorang syekh Abd. Said yang punya perhatian kepada Abd. Gani.


6. Beberapa tahun kemudain Syekh H. Abd. Gani pergi naik haji lagi untuk ke-3 kalinya. Tujuan utamanya ialah untuk menambah ilmu pengetahuan agama. Ia belajar agama pada seseorang guru yang berasal dari Sumatera. Pada kesempatan kali ini syekh H. Abd. Gani dapat menambah ilmu selama 5 tahun.

Dalam masa gurunya mengajar syekh H. Abd. Gani itu, sang guru jatuh sakit, yang semakin lama semakin parah, setelah berupaya mengobatnya, namun dikhwatirkan takkan sembuh lagi, maka pada suatu hari gurunya berucap kepada syekh Abd. Gani, “kalau saya mati, kamu harus manikahi istriku”
Tak lama sesudah wasiat, sang guru itu pun meninggal, mau tak mau syekh H. Abd. Gani harus menepati pesan gurunya tersebut. Maka dikawininyalah bekas istri gurunya itu. Dari perkawinannya di Mekkah itu allah menagaruniainya 2 orang anak yakni  : Siti Aisyah dan H. Suregeiyah.


Demikianlah pendidikan ( menuntut ilmu ) yang dilakukan / ditempuh oleh syekh Abd. Gani al khalidi hampir sepanjang hidupnya baik secara sengaja maupun secara infisit, sehingga dia menjadi seorang alim ulama, guru, syekh yang selanjutnya dikenal sebagai seorang pejuang ulama selaku pelopor pengembangan agama islam bukan saja untuk masyarkat setempat, tapi sampai-sampai Aceh, Kampar Kiri, Sumbar, bahkan murid-murid /santerinya berdatangan dari Aceh, Sumatera Tengah, Palembang, Jambi, daerah Riau, bahkan dari Siam.

7. Berdasarkan petunjuk penasehat (seorang guru agama) di subaling, yakni buya subaling /syekh Abd said menganjurkan agara Abd.Gani meneruskan kajinya dengan menamatkan Qur’an. Katanya ,”Hai, Abd. Gani, kaji kamu belum berarti sebelum menamatkan Alquran.”
Mendengar itu, maka Syekh H. Abd. Gani pun meneruskan menuntut ilmu agama, terutama berupaya menamatkan al-Quran dengan berguru kepada Syekh H Abd Said selama 4 tahun, sehingga tamatan dan makna al-Quran.

8. Kemudian Syekh H Abd.Gani ke Mekkah bagi selama 16 tahun. Beliau menuntut ilmu pada salah seorang gurunya di Mekkah yakni Syekh Awaluddin.


9. Selanjutnya atas saran gurunya Syekh Abd . Said, Abd Gani melanjutkan pendididkannya ke Sumanik. Di sumanik dia mengalami masalah / ilmu : fiqih, tasauf, nahwu, syaraf serta ilmu adat lainnya.


10.Setelah beberapa lama belajar di Sumanik, gurunya berkeinginan hendak naik Haji ke Mekkah. Sebagai kawannya sang guru minta diantar / dikawani oleh Abd Gani dari Sumarik ke Pangkalan dengan berjalan kaki tiba di Pangkalan, perjalanan selanjutnya kekuok, yakni naik perahu. Dari kuok ke Danau bingkuang harus naik perahu lagi,gurunya minta Abd.Gani muridnya itu ikut mengantarkannya . Setelah tiba di Danau Bingkuang perjalanan harus terus ke Pekanbaru dengan menompang mobil.

Tiba di Pekanbaru, tidak diduga-duga sang guru membeli 2 tiket untuk 2 orang ke Singapura tiba di Singgapura, oleh gurunya dipesan pula 2 tiket kapal ke Mekkah. Kiranya dengan takdir Allah, Abd.Gani tertompang pula naik haji untuk kedua kalinya.
Dalam perjalanan dari Sumarik ke Mekkah Abd. Gani terus mencari inflisit dan secara langsung dapat menimba ilmu dan pengalaman dari gurunya dalam rangka meningkatkan pembendaharaan pribadinya.
setelah selesai menunaikan ibadah haji, sang guru hendak kembali ke Sumanik, sementara  Syekh H. Abd. Gani tinggal di Mekkah untuk menambah pendididkan / pengetahuan agama islamnya pada guru / alim-ulama di Mekkah. Di Mekkah beliau menuntut ilmu tarikat Nahsyahbandiyah bertempat di Jabal Kubis. selama menuntut ilmu di Mekkah syekh H. Abd. Gani mendapat bantuan biaya hidup dan menuntut ilmu dari para dermawan asal sumatera yang tinggal di Mekkah.

D. SIFAT-SIFAT PRIBADINYA

Syekh H. Abd. Gani memiliki sifat-sifat kepribadian yang luhur yakni :
1. Ramah tamah
2. Bijaksana
3. Berwibawa
4. Disiplin
5. Berhati-hati
6. Bijaksana
7. Pemurah ( jika ada orang yang minta uang dengan mudah ia memberikannya tanpa dihitung)
8. Rajin
9. Otaknya cerdas
10.Pandai bergaul
11.Berani
12.Istiqomah
13.Menepati janji
14.Suka memenuhi undangan
15.Suka bergotong royong
16.Taat beragama,
17.Konsekwen terhadap ajaran islam. Antara lain ia menerapkan pemakaian busana muslim.

I. Perjuangan Pengembangan Agama Islam


1. Mendirikan surau Darul Arifin, surau tersebut digunakan untuk tempat berhalwat / suluk, mengaji Qur’an, tempat dakwah, belajar ilmu agama dan shalat 5 waktu.
2. Beliau berdakwa selalu mubaligh ke berbagai daerah, seperti ke Sumatera Barat, ke Kampar kiri 5 tahun, di Batu Bersurat dekat dan di Aceh selama 7 tahun.

II.Perjuangan selaku pelopor pendidikan
1. Mendirikan pondok Pesantren di Kota Raja, Tapak Tuan, Banda Aceh. Ia menjadi guru di daerah Aceh selama 5 tahun.
2. Setelah 5 tahun di Aceh beliau pulang ke Batu Bersurat, lalu mendirikan pondok pesantren STI (Sekolah Tsanawiyah Islam)
3. Disamping selaku guru, beliau juga berperan sebagai mubaligh dan mempelopori suluk di surau yang dibangunnya “ Darul Arifin”.
4. Pada pondok STI (Sekolah Tsanawiyah Islam) tersebut, Syekh H. Abd. Gani menjabat selaku kepala sekolah sekaligus guru selama 50 tahun. Dari daerah setempat ( Batu Bersurat dan sekitarnya), banyak yang berdatangan dari daerah Tapung, Tandun, Aliantan, Batu Gajah, Lindai, Lipat Kain dan dari Sumbar ( Candung, 4 Angkek, Padang Jepang dan lain-lain).

III.Perjuangan Menghadapi Penjajah
Barangkali karena sifat-sifat kepribadiannya yang luhur serta bijaksana doanya yang makbul, meskipun sewaktu penjajahan Belanda maupun semasa penjajahan Jepang, kegiatan-kegiatan beliau dalam pengembangan agama dan mempelopori pendidikan dapat berjalan lancar dan aman, tidak mendapat ancaman, tekanan atau halangan. dan beliau tidak pernah dihukum oleh penjajah.
Bahwa sebelum Belanda masuk ( menjajah) Indonesia, daerah Nusantara, khususnya Kampar berada dalam pemerintahan melayu, yang didominasi / dikuasai oleh pejabat / pemangku adat, penghulu dan alim ulama.

E. AKHIR KEHIDUPAN Syekh H. Abd. Gani AL chalidi

1. kisah kematiannya


Syekh H. Abd. Gani al Chalidi meninggal tahun 1961 di Koto Tengah, pada hari Senin jam 4 dalam usia 150 tahun. Kisah kematiannya adalah sebagai berikut
pada penghujung usianya, beliau mengalami rabun mata dan sering kali sakit kepala. Pada waktu subuh hari senin, sekitar jam 4 subuh Syekh H. Abd. Gani mandi. Sudah mandi beliau berwuduk, sewaktu berwuduk beliau merasa capek dan terjatuh dirakit / jembatan ditepian. Beliau dipangku oleh menantunya (H. Suleman) dari tepian terus ketempat tidur.


Sejenak kemudian ia menyuruuh istrinya Mariam sholat subuh. Anak kecilnya yang perempuan (St. Aisyah ) disuruhnya membuat kopi. Sedang orang tidak ada dekatnya beliau melipat kedua tangannya diatas dadanya, setelah terlebih dahulu menyelimuti seluruh badannya.
Anak perempuannya atang membawa kopike tempat tidur ayahnya, seraya membangunkannya, ayahnya tidak menjawab, meskipun telah dipanggil berkali-kali. anaknya khawatir, lalu dibuka selimutnya, ternyata beliau telah tiada ; telah berpulang ke rahmatullah. St Aisyah dan ibunya menangis melolong ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh beliau yang mereka cintai.

2. Darma Bakti Masyarakat


Seratus hari kemudian, yakni peristiwa meratus hari “ kematian Syekh H. Abd. Gani, tanpa diberitahukan kepada umum,dengan spontan seluruh anggota masyarakat dari berbagai daerah dan pelosokberdatangan menjenguk beliau yang diperkirakan tidak kurang dari 1000 orang.


Hari- hari berikutnya banyak bekas muridnya dankaum muslimin dan muslimat lainnyadatang dari berbagai daerah untuk bertakziah/melayat ketempat beliau dimakamkan di batu bersurat. hal tersebut berlansung berbulan-bulan tak putus-putusnya orang datang bertakziah dengan membawa bekal yang cukup. himpunan orang yang bertkziah itu bermusyawarah dan memperoleh kesepakatan, bahwa takziah itu diadakan sekali setahun. ditetapkan waktunya pada setiap 21 hari bulan rajab.


Tradisi tersebut berlaku sampai sekarang, bagi yang datang takziah cukup dengan membawa perbekalan dan bantuan dana untuk perbaikan/penyempurnaan makam beliau yang dibangun di makraf surau daru arifin (kampung orang bijaksana).

F. Peninggalannya


Syekh H. Abd. Gani al Khalidi meninggalkan berbagai segala sesuatu yang berharga,  yakni :

  • Makamnya Dibangun di Makraf surau Darul Arifin, yang kemudian diganti nama dengan surau Sholihin di Batu Bersurat, Kec. XIII Koto Kampar. Kaum muslimin dan mulimat bertakziah besar-besaran sekali setahun tanggal 21 bulan Rajab. Disebabkan pembangunan proyek PLTA makamnya dipindahkan ke Manamang.
  • Istri dan anak-anaknya

Selama hidupnya beliau mempunyai istri 8 orang yaitu ;
1. Istrinya di Binamang
2. Istrinya di Pariaman
3. Istrinya di koto Tengah
4. Istrinya Taram
5. Istrinya Lipat Kain
6. Istrinya Bt Gajah
7. Istrinya Koto Tengah
8. Istrinya di Mekkah.

Pada istrinya di Manamang antara lain anaknya : Sofiah, Aziz, Nursi, Bi’in E Tanang.
Pada istrinya di Koto Tengah, anaknya ialah Aminah, Rozak, Kudra, Idris dan Amir.
Pada istrinya di Pariaman, beliau beranak 2 orang. Jumlah semua anaknya dari 8 orang istrinya tersebut 39 orang.
Pada istrinya di Mekkah, anaknya St. Aisyah dan Surogayah.

Peninggalan Bidang Agama Dan Pendidikan.
1. Surau Suluk Darul Arifin
2. Pondok pesantren STI ( Sekolah Tsanawiyah Islam) serta dengan sarannya Darul Sakinah.
3. Murid-muridnya yang berhasil jadi guru dan ulama : Engku panjang di Batu Bersurat, Engku Panjang di Kotorona, Mualimin, Amir di Batu Bersurat, Syofyan di Danau Bingkuang, Mudar di Pongkai, Baharudin di Kuntu, Yamarni, Zamat Kari di Airtiris, Mukhlis di Tabing Dan di Batu Bersurat ( Anaknya Syekh H. Aidarus Gani).

Bahwa disebabakan wibawa dan kepemimpinannya serta do’a-do’a nya yang makbul, menyebabkan musuhnya menjadi takluk. bahkan ikut menyokong usaha-usaha Syekh Abd. Gani .


Dalam usaha bagi pengembangan agama Islam, beliau menggunakan sistem sekolah dirumah, di surau. Selanjutnya karena orang banyak terpengaruh oleh beliau, maka pendidikan agama itu berlansung dari waktu ke waktu sholat 5 waktu. Olah karena kegiatan tersebut terus berlansung bahkan kegiatan mengaji agama itu diikuti oleh orang-orang dari negeri-negeri lain yang jauh, maka banyak diantara mereka yang menuntut ilmu atau ajaran agama itu yang tinggal bermukim ditempat Syekh  H. Abd. Gani tersebut.


Bahwa salah satu cara dalam memanfaatkan / mengembangkan ajaran agama Islam adalah dengan mengadakan suluk atau tarikat. Adapun jenis / versi suluk nyang dilakukan beliau ialah suluk Nahsyahbandiyah.


Sebelum beliau meninggal, ia mewariskan surau Darul Arifin beserta kegiatan berhalwat (suluk) serta pondok pesantren Darul Sakinah kepada anaknya Syekh  H. Aidarus Gani.


Tatakala sang ayah (Syekh  H. Abd. Gani Al Khalidi) wafat, maka Syekh  H. Aidarus melanjutkan usaha beliau yang mengalami kemajuan pesat. Surau Darul Arifin ditukar namanya dengan surau Sholihin.



Tempat Suluk Dan Pondok Pendidikan / Pesantren


Tempat berkhalwat, melaksanakan suluk ialah disurau Darul Arifin yang digunakan 2 kali setahun, yakni suluk Nasyabandi bulan puasa selama 40 hari, dan suluk musim haji, berlansung 20 hari, pada musim / bulan haji.


Setelah pulang naik haji ke-3, Syekh  H. Abd. Gani Al Khalidi mendirikan pondok pesantren untuk belajar ilmu agama, untuk menampung siswa / santri yang berdatangan belajar dari berbagai daerah, sebelum meninggal beliau telah membangun 30 s.d 40 pondok pesantren untuk menampung santri, terutama yang datang dari daerah seperti Aceh, Sumbar, Riau, Jambi, Palembang, bahkan dari Siam.


Untuk mengajukan pendidikan pondok pesantren diserahkan beliau kepada anaknya Syekh  H. Aidarus Gani sekolah / pondok pesantren tersebut diberi nama Pondok Pesantren Tarbiyah Islam (PPTI) Bt. Bersurat.


Pelaksanaan Suluk
Suluk diadakan 2 kali selama setahun. yaitu :
1. Suluk bulan Ramadhan, lama suluk 40 hari, dimulai pada 20 hari bulan Syakban s.d hari Raya Idul Fitri.
2. Suluk bulan Haji, lama suluk 20 hari, dimulai 20 hari bulan Zulkhaidah s.d. 10 hari bulan Zulhijjah.


Tempat Berkhalwat / Suluk Itu Disurau Darul Arifin Batu Bersurat, yang dibangun sewaktu Syekh  H. Abd. Gani berusia 32 tahun, sepulang beliau dari naik haji ke-3.


selain tempat Suluk Surau tersebut juga dimanfaatkan untuk tempat belajar ilmu agama lainnya, seperti piqih, tasauf, akhlak dan ilmu alat.
Bahwa pada musim suluk itu, berdatanglah orang dari berbagai daerah, yakni dari : Aceh, Sumbar, Palembang, Jambi, Siam dan lain-lain, terutama orang Batu Bersurat dan sekitarnya.


Kegiatan Suluk ini berlansung siang dan malam. Sekali dalam 10 hari diadakan peralihan ( Anjak Kaji).
Penutupan Suluk bulan Ramadhan, pada malam hari Raya Idul Fitri. Kegiatan ini dilakukan secara besar-besaran dan dikunjungi oleh seluruh lapisan masyarakat.

Peninggalan Kesan Positif Terhadap Masyarakat


Dalam upaya selaku seorang tokoh masyarakat seperti dalam usaha-usaha kemasyarakatan guna untuk kesjahteraan rakyat, Syekh  H. Abd. Gani dimuliakan an disegani masyarakat.


Begitupun terhadpa pihak pemerintah / pada waktu semasa penjajahan Belanda, Syekh  H. Abd. Gani pun dapat bekerja sama dalam hal-hal tertentu, seperti : dalam bergotong royong untuk jalan, Irigasi dan pembangunan / pembuatan jembatan.


Jika ada acara-acara dalam masyarakat yang dihadiri oleh Syekh  H. Abd. Gani, maka banyak anggota masyarakat yang hadir dan berpartisifasi aktif.  Justeru itu pekerjaan menjadi lancar dan sukses.


Menanggapi pengaruh beliau yang demikian, baik penjajah Belanda maupun jepang merasa kagum dan menyegani Syekh  H. Abd. Gani. Oleh karena itu pihak penjajah tidak berani mengganggu atau merintangi visi dan misi yang dilaksanakannya.


Pada waktu penjajahan Belanda, dimana pada masa itu di daerahnya ( Batu Bersurat dan sekitarnya), belanda telah ada perwakilan untuk jabatan asisten demang. Untuk memegang jabatan itu belanda mempercayakan menunjuk Syekh Jangguik asal Siberuang (Subaling).


Kawan - Kawannya
1. Syekh Abd. Rahman dari Aceh
2. Dt. Rajo Penghulu dari suku Melayu
3. Dt. Bandaro Mudo dari suku Melayu)
4. Dt. Khalifah (pucuk adat dari suku Domo) Batu Bersurat
5. 8 orang penghulu dari 3 pucuk Adat tersebut.

Bahkan penjajahan Belanda dan Jepang tidak memusuhi Syekh  H. Abd. Gani, entah karena do’anya yang makbul, sang penjajah tidak pernah menghalangi kegiatan beliau, baik dalam pengembangan agama, maupun dalam pendidikan pondok pesantren ataupun dalam kegiatan suluk / tarikat. Dalam sepak terjang nya selalu juru dakwah (mubaligh), pun penjajah tidak pernah mengancam, memaharinya atau menghukumnya, seakan-akan ada suasana persahabatan dan rasa berkawan. Hal ini menyebabkan misi yang dibawa Syekh  H. Abd. Gani dapat berjalan pesat dan sukses. Apalagi dengan adanya dukungan Ninik Mamak pemangku adat setempat.


Pengaruh dan hasil perjuangan Syekh  H. Abd. Gani ini ialah di Aceh, Sumbar ( Payakumbuh, Pariaman, Bukittinggi), di Pelambang dan Sekitarnya, terutama daerah kelahiran beliau ,yakni didaerah Kampar dan sekitarnya.

G. Kesimpulannya


Sebagai kesimpulan perjuangan Syekh  H. Abd. Gani, secara garis besarnya kegiatan-kegiatan Syekh  H. Abd. Gani selaku seorang tokoh pelopor pendidikan dan pengembangan agama islam di daerah kabupaten Kampar, khususnya di Batu Bersurat dan sekitarnya adalah sebagai berikut :
1. Mengajarkan ilmu agama, meliputi pelajaran : tauhid, fiqih, akhlak, bacaan Qur’an, ilmu teknis pengelolaan pendidikan pondok pesantren.
2. Pengembangan ajaran agama dengan melakukan kegiatan - kegiatan dakwah disurau, dirumah-rumah dengan cara takziah, ceramah singkat sesudah shalat 5 waktu.
3. Dengan cara melaksanakan suluk. Beliau menganut ajaran suluk “Tarikat Nahsyahbandiyah “. Pelaksanaan suluk itu dilakukan pada suatu surau, yang dilakukan secara bermusim dalam satu tahun.


Selain salah satu sistem, secara insidentil mengadakan acara takziah sekali setahun, yakni tanggal 21 bulan Rajab. Berkenaan dengan waktu ( lama masa suluk) itu adalah 40 hari dan 20 hari.


Adapun peserta suluk itu selain pendudk setempat dan juga berdatangan dari daerah / propinsi lain ( Aceh, Sumbar, Jambi, Lampung, Siam).
Dalam kepeloporannya di bidang pendidikan, guna menampung pelajar dan santri dari luar daerah, beliau sempat membangun 30 buah pondok disekitar surau Darul Arifin, Batu Bersurat. Kemudian secara estafet dilanjutkan oleh anaknya Syekh  H. Aidarus Gani dan cucunya Alaidin.


Patah tumbuh hilang berganti, setelah Syekh  H. Abd. Gani meninggal, dengan meninggalkan warisan yang telah berkembang – gemblang. Justeru itu, segala sesuatu yang telahdirintis  / dipelopori oleh Syekh  H. Abd. Gani dan Syekh  H. Aidarus Gani ( pendahulunya), dilanjutkan oleh cucu Syekh  H. Abd. Gani Al Khalidi, yakni Alaidin Al Khalidi.
Bangkinang, 5 Mei 2005

5. ENGKU MUDO SANGKAL ( TOKOH PENGEMBANGAN AGAMA)

A. Kelahiran Dan Masa Kecilnya


Nama kecilnya Sangkal. Dia lahir pada tahun 1862 di Tanjung Belit, Air Tiris, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar. Ibunya bernama Juwi, asal Kenegrian Airtiris, Kecamatan Kampar. Ayahnya bernama H. Majid, berasal dari daerah Tapanuli Selatan. Sangkal bersaudara 3 orang yakni ; Ma’ahat, Hasidah dan Sangkal sendiri.

B. Pendidikannya


Sangkal belajar mengaji dari orang tuanya, Ia tidak masuk sekolah umum, karena pada waktu itu belum ada sekolah SD seperti sekarang atau sekolah lainnya yang dapat dimasuki.


Setelah menerima ilmu agama secara dasar didaerah kelahirannya, kira-kira usia 17 tahun Sangkal berkemauan melanjutkan pendidikan agamanya. Karena banyak orang pada masa itu dari daerah Limo Koto ke daerah Minang Kabau (Sumbar) maka Sangkalpun direstui ibu bapaknya untuk pergi melanjutkan pendidikannya ke Candung, Taram, Payakumbuh. Oleh karena waktu itu belum ada kendaraan bermotor, maka Sangkal pergi sekolah dari Airtiris ke minang kabau berjalan kaki. Dengan menempuh semak belukar, Sangkal dengan beberapa temannya berangkat dari kampungnya menuju ranah Minang. ia dibekali ibu bapaknya sebuah kelapa dan beberapa cupak beras.


Setelah berjalan kaki selama 2 hari 2 malam, barulah Sangkal sampai di Taram / Candung, tempat ia menuntut ilmu. Beras dua cupak untuk makan dua minggu, sedangkan satu buah kelapa yang dibekali itu tidak boleh dimakan, tapi dimaksudkan ayahnya untuk dipakai sebagai bantal diwaktu tidur, dengan pengertian agar dalam masa menuntut ilmu itu jangan banyak tidur nyenyak. Bila kepala tergeser sedikit saja dari bantal kelapa tersebut, maka kepala akan jatuh kelantai yang menyebabkan orang terkejut serta kantukpun hilang. Kesempatan ini harus direbut untuk membaca buku atau belajar lagi.


Sangkal belajar di taram / candung ini selama 7 tahun. Oleh karena perubungan sulit dan ekonomi orang tua sendat (miskin), maka Sangkal harus pandai-pandai hidup dirantau orang. Justru itu Sangkal memasak dengan empat 4 orang temannya. Ia mendapat upah memasak dari ketiga orang temannya itu.


Akan tetapi meskipun pembagian nasinya lebih sedikit dari temannya yang memiliki beras, namun ada dari temannya itu yang curiga dan menyangsikan kejujurannya.


Disebabkan hal itu, Sangkal keluar dari perkongsian memasak itu, lalu memasak sendIri dari beras yang diperolehnya setiap minggu, yakni dua cupak (lebih kurang ¾ Kg) guna untuk mengurangi makan, setiap kali Sangkal memasak, ia memasukkan satu buah pinang ke dalam kaleng atau tekong selanjutnya 2 buah pinang dan seterusnya 3 buah pinang, sehinnga semakin hari semakin sedikit beras yang ditanaknya. Dengan demikian semakin sedikit ia makan nasi. Jika beras tidak ada, Sangkal memutuskan berpuasa saja hari itu.


Situasi sulit seperti diatas dialami Sangkal selama enam tahun. Meskipun ia menuntut ilmu dengan suasana menderita, namun karena kemauan keras, rajin dan bersungguh-sungguh, apalagi otaknya cerdas, maka dalam masa empat tahun ia telah banayak dapat menimba ilmu pengetahuan agama, seraya mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.


Setelah E. M. Sangkal menamatkan pendidikannya di Taram, maka kemudian beliau melanjutkan ke Candung selama tiga tahun. Belajar dari pengalaman-pengalaman yang telah lalu dan memperhatikan perkembangan di tempat yang baru maka timbullah minat Sangkal untuk beternak ayam kampung. Diapun melaksanakan beternak ayam. Makin lama ternaknya makin berkembang biak. Dalam pada itu terniat pula olehnya untuk mengembangkan usahanya, dimana beliau pandai melukis, ayam jantan dan ayam betinanya di cat berwarna-warni, sehingga bagus seperti bulu burung merak. Harga induk ayam sewaktu itu laku 25 atau 30 sen per ekor. Setelah dilukis dengan cat harganya menjadi dua kali lipat. Oleh karena banyak orang yang memesan, Usahanya naik bagai air banjir, sehingga untuk biaya makan dan pendidikannya dengan mudah diatasinya, bahkan sebagai hasil dari jerih-payahnya itu ditabingkan.


Melihat kemajuan E. M. Sangkal yang dikenal dengan  “Engku Lubuak” itu para tetangganya banyak yang menjadi iri dan dengki.  Sewaktu ayam engku Sangkal memakan jemuran atau memasuki rumah orang, maka dengan serta merta mereka lempar dan mereka bunuh. Sehingga telah banyak ayam E. M. Sangkal mati. Namun tidaklah ia menjadi marah, namun ia mencari akal untuk mengatasi masalah tersebut.


Pada setiap hari pekan, sekali seminggu E. M. Sangkal membeli penganan seperti ; lemang, penukuik dan lain-lain kesukaan tetangga. Kemudian juadah tadi dibagi-bagikannya kepada tetangga yang iri tadi.


Semenjak E. M. Sangkal membalas air tuba dengan air susu itu, maka mereka merasa berhutang budi dan segan bertindak khianat kepada E. M. Sangkal. Dan jika ada anak tetangga yang gatal-gatal tangan mau mendengki ayam beliau, maka ibu bapaknya mengatakan “ usah digadua juo ayam Angku Labuoktu”.


Sejak itu ayam engku sangkal semakin banyak. Begitupun penjualan yam hiasnya laku pesat. Setahun menjelang ia menamatkan pelajarannya di Ranah Minang uang simpanannya telah cukup banyak. Sungguh merasa lega E. M. Sangkal tatkala pulang kekampung halamannya, yaitu ke Airtiris. Sesampai dikampung, ia dikawinkan dengan gadis cilik yang bernama Tijah yang tatkala itu berumur 13 tahun.


Semasa Engku Mudo Sangkal menuntut ilmu di Candung, ia telah digelari orang disana dengan panggilan “ Engku Lubuak” yang berarti seseorang yang telah meningkat /diakui menjadi guru karena telah dalam ilmunya. Sebagai mana pribahasa menyatakan “ Lubuak Ilmu Tapian Budi).


Memanglah Engku Mudo Sangkal sangat banyak dan luas ilmu pengetahuannya, maka ia diberi gelar “ Engku Lubuak “. Tambahan pula Engku Lubuak sangat pintar serta pandai pula membawa diri, maka gurunya amatlah sayang padanya.


Engku Lubuak juga pandai mengobati orang sakit. Karenanaya pada suatu hari, Engku Mudo Sangkal diajak oleh gurunya menjenguk seorang  perempuan penderita sakit perut kembung (manai) yang sudah tak mau makan lagi. Ketika teman-temannya mendengar hal itu, merekapun mengejek :” Angku Lubuak, kamaa tu ? pulang le ? “.


Tanpa menghiraukan ejekan itu Engku Lubuak terus pergi bersama gurunya itu. Engku Lubuak disuruh membaca doa untuk perempuan itu. Dengan penuh kepatuhan ia pun berdo’ a :

“ laa ila haillallahu tubtu tu ilallah,
laa ila haillallahu jaatu ti ilallah,
laa ila haillallahu rojaktu tu ma uyai”     

Mendengar ucapan ( Ma’uyai) Engku Mudo Sangkal, perempuan yang sakit itu tertawa dan serentak dengan itu meletuslah perut perempuan yang besar itu, sehingga cairan berupa lendir, nanah dan darah yang membuat perutnya menjadi besar, keluar semuanya. Perut perempuan itu menjadi kempis. Beberapa hari kemuadian, perempuan itu pun sehat kembali sehingga mau makan dan minum seperti dikala ia sehat.


Disebabkan karena kemanjuran do’a Engku Mudo Sangkal , bahkan si sakit yang oleh beberapa dukun yang lain tak mampu mengobatinya. Tapi dengan izin allah, Engku Mudo Sangkal dapat menyembuhkannya. Karena itu ia semakin dikenal didaerah Candung dan sekitarnya.

C. Sifat- Sifat Kepribadiannya.


1. Sosial( Suka Menolong/ Kuat Toleran)
2. Suka Kesederhanaan
3. Rendah Hati
4. Adil
5. Istiqomah ( Teguh Pendirian)
6. Berkesusilaan Yang Tinggi ( Disiplin)
7. Teliti
8. Berani
9. Cerdas
10.Berwibawa ( Punya Karisma Yang Tinggi)
11.Asin Lidahnya ( Kata-Katanya Diindahkan)
12.Ahli Ilmu Hisab / Falak
13.Punya Ilmu Ksab ( Pandangan Tembus )
14.Bijaksana / Diplomatis
15.Berjiwa Besar
16.Berjiwa Pelopor
17.Jujur / Amanat / Taat
18.Berjiwa Seni ( Ahli Berpantun / Bersyair)
19.Rajin / Terampil
20.Kreatif.


D. Perjuangannya


1. Berdakwah Keliling


Sebagai seorang yang alim, yang mana Engku Mudo Sangkal baru selesai dari menuntut ilmu di Ranah Minang ( di Taram dan Candung), karenanya selain dia telah mendapatkan pengakuan dari gurunya, beliau malah telah terkenal dengan sebutan “Engku Lubuak”, maka tidaklah heran jika ia bertekad bulat hendak mengembangkan agama islam didaerah kelahirannya yakni di Kenegrian Airtiris dan sekitarnya.

Beliau tampil sebagai mubaligh yang memberikan ceramah agama berkeliling ke kampung –kampung seperti Naga Beralih, Bangkinang, Muara Uwai, Pulau, Kampar, Kopur, Rumbio, Terantang, dll. Dalam daerah Limo Koto dalam seminggu 6 hari digunakan beliau untuk beredar ke kampung- kampung, dimana telah tersedia surau-surau tempat ia memeberikan pengajian. Hanya satu hari yang ia menetap, yakni pada hari pekan Kenegrian Air Tiris, yakni hari Sabtu. Karena pada hari itulah yang tersedia peluang bagi orang yang hendak bersilahturahmi dengan beliau, baik dengan orag yang dekat maupun yang jauh, terutama bagi murd-muridnya yang berkepentingan. Dan pada hari pekan itu pulalah orang yang berhajat hendak bersedekah atau berniat hendak membayar nazar, akan dapat membayarkannya. Anehnya, manakala ia diberi orang uang atau barang ( beras, buah-buahan dll) maka sering diberikan / disedekahkannya pula kepada orang kesusahan yang lainnya.


Setelah lewat hari pekan, yang secara pameo disebut orang dengan “ Hari Kekenyangan”, maka beliaupun terus melaksanakan tugasnya sebagai mubaligh keliling. Demikianlah berlaku bertahun-tahun lamanya, sehingga anaknya dahlia telah menjadi “Gadis Cilik”. Berkat ajaran agama yang diberikan kepada anaknya itu semenjak kecilnya disertai contoh teladan yang baik, maka anaknya tersebut betah mengikuti ayahnya kemana-mana serta mampu menjadi protokol, menyampaikan mukaddimah dari ceramah agama yang diberikan oleh ayahnya dan kadang kala disertai pantun.


Sebagai contoh dapat dikemukakan, bahwa menurut informasi yang diperoleh, sewaktu diadakan wirid pengajian dirumah Jamu ( kakak Engku Mudo Sangkal), maka dikumandangkan syair yang seakan-akan ditujukan kepada Jamu, namun sesungguhnya adalah sindir hempas terhadap murid yang sedang pengajian.

6. DATOK TABANO (TOKOH PEJUANG FISIK )

Datuk tabano yang  nama kecilnya Gandulo dilahirkan tahun 1865 disuatu kampung kecil bahagian ke hulu sungai Kampar Kanan, yaitu kampung UAI di Kenegrian Bangkinang didaerah Limo Koto Kampar, ibunya berasal dari persukuan Melayu Datuk Tuo. Gandulo kecil merupakan salah satu murid pengajian surau Jamiak, dikenal sebagai murid yang patuh dan pemberani. Selain belajar mengaji Gandulo juga mempelajari ilmu silat pendinding dari sifat lahir maupun batin itu sebagai lazimnya pendidikan semasa itu.


Setelah dewasa ninik mamak persukuan melayu datuk tua dengan kesepakatan kaum persukuan dan setelah dikalikan dalam dan gantungkan tinggi serta dituah di celakai, maka dimufakati oleh kaum pasukan untuk mengangkat Gandulo menjadi dubalang dari Datuk Tuo dan deberi gelar Datuk Tabano.


Sebagai dubalang dari datuk tuo yang dalam pemerintahan adat Kenegrian Bangkinang, datuk tuo merupakan pasak kunci Ninik Mamak dua belas penjaga parit perbatasan yang memegang kekuasaan di saat negeri sedang rebut rampas, maka jiwa kesatriaan Tabano sangatlah dituntut untuk mengamankan negerinya serta mengemban tugasnya. Tuhan maha kuasa telah memberikan takdir kepada Tabano yang mempunyai ilmu kebal diri, dan memiliki rambut yang panjang, apabila suatu ketika akan datang marabahaya maka rambutnya panjang akan berdiri bagai diterbangkan angin, datuk Tabano dimasa hidupnya didamingi istrinya, yang juga mempunyai ilmu pendinding diri bernama Halimah Siyam dikarunia dua orang anak masing-masing bernama Adullah dan Habibah. kesetiaan Halimah di abadikan sampai akhir hayat Tabano.

PERLAWANAN RAKYAT LIMO KOTO MENANTANG BELANDA

Pada tahun 1895 karena keadaan daerah perbatasan Pulau Gadang tidak aman lagi, maka diadakanlah musyawarah datuk yang berlimau dengan mufakat bulat untuk memperkuat pusat pertahanan rakyat Limo Koto di Kandang Halauan dan Polucuan Tonggak, guna mempertahankan Limo Koto dari serbuan kompeni Belanda yang atang dari hulu. Kedua pusat pertahanan atau benteng terletak ditebing Sungai Kampar, Kandang Halauan didekat batu Dinding Rantau berangin sedangkan Polucuan Tonggak di daerah Pulau Ompek Kuok.


Pertengahan tahun 1895 di Benteng Kandang Halauan berkobarlah perang antara pasukan kompeni dengan pasukan rakyat Limo Koto, Lima buah perahu kompeni yang bersenjata lengkap dilumpuhkan dikandang perairan Kandang Halauan, maka oleh pasukan rakyat dihujani dengan tembakan meriam besi dari atas tebing, pasukan kompeni yang terkurung di perairan sungai Kampar yang berkelok bagai leter U dihalaukan kearah tebing yang dikawal oleh pasukan rakyat Limo Koto, kelima perahu kompeni tenggelam ke dalam komando Tabano, Dubalang Jelo, Seribu Garang Dang Tunggang Balumuuik di sambut gembira oleh raktyat Limo Koto.


PELARIAN DARI DAERAH TAMBANG

Kerja paksa yang diterapkan Kompeni, membuat penderitaan yang ditanggung Tambang semakin parah, banyak buruh - buruh pekerja yang jatuh sakit tanpa ada perawatan, bagi yang bia bertahan akan terus hidup dibawah acungan senjata kompeni yang tidak akan mati, diantaranya mayat – mayat mereka ada yang di hanyutkan di sungai Kampar.


Ada yang berusaha melarikan diri namun apabila tetanggap akan menanggung azab yang akan lebih parah dan menyedihkan, cambuk- cambuk kompeni akan melilit tubuh-tubuh yang telah sekarat itu.


Dua orang pekerja Tambang masing-masing bernama Daud Salim berasal dari Aceh, dan Marjan berasal dari Jawa Tengah, yang diduga sebagai pemberontak yang melarikan diri dari daerah Tambang Sawah Lunto, yang mendapat informasi bahwa mereka akan dibunuh oleh Kompeni di Pulau Godang, setelah melalui jalan hutan, kemuadian menelusuri tepi sungai Kampar, kedua orang tersebut dalam keadaan lelah akhirnya sampai di Polucuan Tonggak.


Kedua orang tersebut ditangkap oleh pasukan rakyat yang berjaga, setelah dusul periksa selanjutnya kedua mereka dibawa ke Bangkinang untuk dihadapkan kepada Tabano dan Datuk Bandaro Sati. Melalui kedua orang tersebut didapat informasi tentang kekuatan Belanda di Pulau Godang, kedua orang tersebut akhirnya mengangkat sumpah untuk ikut berjuang dengan rakyat Limo Koto, serta menyerahkan diri untuk menjadi anak kemenakan Limo Koto, oleh penghulu adat niat baik kedua orang ini disambut tangan terbuka.


PERISTIWA KOTO MENANTI


Disuatu pagi  pada Tahun 1895 disaat orang kampung Salo Koto menanti pergi ke Ladang Beruh, mereka menjumpai mayat seorang laki-laki di tengah Ladang tersebut, setelal diperiksa ternyata orang yang mati itu bernama Sikamih penduduk kenegrian Koto menanti Solo, oleh penduduk diberotahukanlah kepada Pucuk adat Kenegrian Salo Bosau.


Oleh datuk bosau diadakanlah usul periksa tentang kematian Sukamih, terdugalah dalam kejadian itu seorang laki-laki berasal dari Bangkinang dikenal dengan panggilan tukang sapi yang menyebabkan kematian Sikamih, saat situkang sapi dicari ke rumah istrinya di Koto Menanti ternyata dia telah melarikan diri.


Peristiwa kematian Sikamih ini akhirnya menyebar kepada masyarakat, dan peristiwa tersebut hampir menimbulkan perpecahan antara penduduk Bangkinang dengan Salo, untunglah datuk Bandaro Sakti selaku pucuk adat bersama dengan Datuk Bosau dapat menyelesaikan persoalan itu, situkang sapi yang diduga melakukan pembunuhan telah melarikan diri ke Malaya, atas kebijakan Datuk Bandaro Sati anak kemenakan kedua belah pihak dapat didamaikan.


Perdamaian tersebut dilaksanakan dibalai Salo saat itu oleh pucuk adat dihadirkan pula Daud Salim dan Marjan, kedua masyarakat telah diberi tahu bahwa di balik peristiwa yang lebih besar akan dihadapi Limo Koto menyangkut dengan keamanan negeri yang menuntut persatuan yang kuat sesama anak negeri, sebahagian daerah perbatasan telah diduduki Belanda dan sebagai bukti kekejaman Belanda, inilah saudara kita Daud Salim dari Aceh dan Marjan dari jauh tengah menerima perlakuan Kleji di Tambang pulau Godang, mereka berusaha lari kemudian untuk menyelamatkan diri selanjutnya dengan istri kemadian untuk menyelamatkan diri selanjutnya dengan tekad bulat bergabung dengan rakyat Limo Koto untuk mempertahankan tanah kelahiran kita ini.


Kata - kata Datuk Bandaro Sati membuat penduduk tersentak dan menyadari tanggung  jawab yang bakal mereka pikul, dengan kebesaran jiwa akhirnya penduduk Koto Menanti meneriama perdamaian itu.


Pada hari itu pulalah diputuskan secara musyawarah oleh Datuk Berlima untuk melakukan penyerangan ke Tambang Pulau Godang yang dikomandoi Datuk Tabano, Seribu Garang, Tunggang Berlumut, Daud Salim, maejan dan Dubalang Jelo.


PENYERANGAN KE TAMBANG EMAS PULAU GADANG

Sesuai dengan keputusan musyawarah di Kota Mananti dan setelah tiba waktu yang ditentukan, pada tahun 1895, oleh Datuk yang Berlima serta Penduduk Limo Koto diadakanlah acara pelepasan pasukan penduduk dari Bangkinang menuju Pulau Godang dengan dipersenjatai meriam besi, senapan lantak, tombak dan perang, dari Bangkinang pasukan bergerak melalui kampung Pulau Empat. Di Poluncuan Tonggak pasukan yang dikomandoi Tabano bergabung dengan dubalang Pulau Empat dan Pulau Balai.


Pada malam harinya melalui jalan sungai Kampar dengan memudikinya pasukan bergerak menuju daerah Tambang, sesampai dimudik Rantau Berangin pasukan kembali melalui jalan hutan dengan penunjuk jalan Tangku Daud Salim dan Marjan. Menjelang kokok ayam atau dini hari pasukan rakyat memasuki kawasan daerah Tambang, dengan membunuh serdadu-serdadu kompeni yang berjaga malam itu selanjutnya penyeragan secara gerilya dilakukan ke perumahan serta kamp Kompeni dilokasi Tambang.


Para pekerja Tambang yang dalam kelelahan dan para serdadu yang sedang tertudur pulas karena tidak mengira akan terjadi serangan tersebut, akhirnya banyak yang mati, pada malam hari itu juga pimpinan Tambang yang juga mengepalai Kompeni Belanda bernama “Clifford” berhasil dibunuh oleh pasukan Tabano.


Berbagai persenjataan milik kompeni berhasil di rampas oleh pasukan rakyat, satu pucuk senapan pistol milik Clifford, di bawa ke Bangkinang oleh pasukan rakyat Limo Koto.


Sebahagian Kompeni yang masih hidup melarikan diri arah ke Muara termasuk seorang Nyai perempuan pendamping Clifford yang menderita luka-luka, Nyai ini pulalah yang membawa berita sampai kedaerah Lima Puluh kota Payakumbuh.


Kabar kemenangan pasukan rakyat, disampbut gembira oleh Datuk yang berlima serta masyarakat Limo Koto, penyambutan pasukan dirayakan dengan keramaian anak negeri, serta acara dibalai Kampung Gadang.

 

TAMBANG EMAS PULAU GODANG BERGANTI PIMPINAN

Khabar penyerangan ke Tambang Emas Pulau Godang oleh rakyat Limo Koto dan terbunuh Nya Clifford sampai ke Residen Padang,  Nyai Clifford yang terluka akibat serangan tersebut atas perintah keresidenan di rawat di Lima Puluh kota Payakumbuh.


Menanggapi peristiwa tersebut oleh residen dan Guvernement Belanda yang diwakili “PAULUS” dibenttuk suatu team “ Ekspedidi Ke V ke Limo Koto Kampar” yang dipimpin perwira Belanda “BERENCHAT” yang bertugas selain mengepalai daerah Tambang, juga mempunya missi untuk merebut Limo Koto, serta menangkap para pembunuh Clifford.


Tahun 1896 setelah menduduki jabatannya Berenchant melakukan berbagai taktik untuk menguasai Limo Koto, serangan pancingan untuk mengukur kekuatan pasukan rakyat dicoba Berenchat dengan memakai serdadu-serdadu Belanda hitam, namun disaat melewati pertahanan Polucuan Tonggak para serdadu yang bergerak melalui jalan sungai Kampar, maka Berenchat menjalankan taktik dan sambil menyelidiki pasukan melalui Spionase, serta membujuk pemuka adat agar mau bekerja sama dengan Belanda.


Belanda melalui spionasenya mengatakan tidak memasuki Limo Koto, serta tidak ikut campur tangan urusan pemerintahan rakyat Limo Koto.


UTUSAN BELANDA MENDATANGI DATUK BANDARO SAKTI


Ditahun 1898 pada suatu malam dua orang utusan Belanda masing-masing Datuk indo Sampono yang lebih dikenal sebagai Tuanku Laras serta Datuk Rajo Selo datang menemui pucuk adat Datuk Bandaro Sati, oleh Datuk Bandaro Sati kedatangan kedua orang ini disambut dengan baik, apalagi mengingat Rajo Salo bakal dicalonkan dengan Adik Pucuk adat tersebut.


Setelah berbincang-bincang Indo Sampono, mengutarakan maksudnya, bahwa kedatangannya adalah sebagai uluran jari sambungan lidah menyampaikan pesan yang dipikulkan Belanda padanya, meminta Datuk Bandaro Sati dan Datuk Tabano mau bekerja sama dengan Belanda.


Datuk Bandaro Sati merasa tersentak mendengarkan kata-kata tersebut, muka pucuk adat tersebut merah padam, bulu tangannya yang panjang berdiri, namun kemarahannya itu cepat diredakannya, permintaan Indo Sampono ditolaknya, bekerja sama dengan Belanda berarti menjual bangsanya sendiri kepada penjajah. Indo Sampono berusaha membujuk, kemudian mengatakan, maksud Belanda tentu sulit dihalangi, alangkah baik bekerja sama dari pada mengorbankan berpuluh bahkan beratus-ratusan anak kemenakan Limo Koto untuk berperang hal itu akan sia-sia.


Segala ucapan Indo Sampono, tak berarti apa-apa keteguhan pendirian pucuk adat itu sulit dipengaruhi baginya lebih baik berlumur darah darupada menyerah untuk bekerja sama denagn Belanda.


Akhirnya Indo Sampono merasa bujukannya tak berhasil kemudian mengalihkan pembicaraan kearah lain, setelah lama berbincang-bincang selanjutnya meminta pamit pada Datuk Bandaro Sati.


DATUK BANDARO SATI MEMBERI KHABAR UNTUK TABANO


Malam itu juga Datuk Bandaro Sati ditemui Tayib datang menemui Datuk Tabano, dihalaman rumah Tabano Datuk Bandaro Sati disonsong oleh Marjan yang kebetulan malam itu sedang berada digelanggang silat dihalaman rumah Tabano, melihat kedatangan pucuk adat para penduduk yang ikut memberi hormat,  dalam hati mereka bertanya-tanya “ Apakah gerangan khabar yang dibawa pucuk adat itu?" menemuinya dan menyampaikan pesan dari belanda meminta kita untuk bekerja sama dengan mereka, Tabano dengan tenang bertanya kepada Bandaro Sati “ bagaimana dengan sikap datuk”?. Bandaro sati kemudian menjawab bahwa sikapnya sama dengan Datuk Tabano, terapung sama hanyut, terendam sama basah, setapak berpantang surut melangkah berpantang mundur. Kemudian dijawab oleh Tabano “ benar tuk setiap jengkal tanah Limo Koto takkan kita biarkan melangkahi mayat saya, lebih baik mati bercermin bangkai daripada bekerja sama dengan kafir itu.


Sejenak keduanya terdiam, difikirkan Datuk bandaro terbayang wajah Indo Sampono dan Raja Selo, raut mukanya memerah kemudian ditariknya nafasnya, tangan meraih selapah rokok yang sejak tadi diletakkan dihadapannya, kemudian dia berkata “ Datuk Tabano, sekarang kita harus berhati – hati musang berbulu ayam, terkadang orang bersedia menghianati bangsanya demi yang dan kedudukan, dan saya harapkan untuk awasi gerak - gerik orang Indo Sampono dan Raja Selo, kedua orang itu sangat berbahaya bagi kita”. Kemudian menggulung rokok nipahnya “Benar tuk” kata Tabano, saya akan selalu ingat kata - kata datuk.


Pembicaraan mereka berhenti, ketika dari arah dapur Halimah istri Tabano datang membawa kopi hangat “ Minumlah Tuk hanya kopi saja” kata Halimah. “ terima kasih” jawab pucuk adat itu. Halimah kemudian berlalu kebelakang, kedua Datuk itu kemudian menikmati kopi tab, sementara dihalaman terlihat sebahagian pasukan rakyat sedang berlatih silat pedang, sedangkan Tayib yang menunggu Datuk Bandaro Sati di halaman rumah menikmati suguhan Kawa bersama Marjan dan Seribu Garang.


Tak berapa lama kemudian Datuk Bandaro Siti memohon diri kepada Tabano, pucuk adat itupun turun kehaliman rumah diiringi Datuk Tabano, melihat pucuk adat itu telah turun Seribu Garang dan Marjan disusul oleh Tayib segera berdiri memberi hormat, kemudian datuk Bandaro Sati memanggil Tayib. “ Tayib, mari kita pulang ya Datuk Bandaro Sati.


Sesampai dipintu perkarangan rumah Datuk Bandaro Sati mengucapkan salam “ assalamualaikum “ Pucuk adat itupun berlalu meninggalkan perkarangan rumah Tabano, dari jauh sebentar - sebentar terlihat tangan si Tayib mengibas - ngibaskan suluh daun kelapa agar apinya sebagai penerangan tetap menyala.


EKSPEDISI KE-V BELANDA MEMASUKI BANGKINANG


Siank itu pukul 12.00 tengah hari Senen 28 agustus 1899 Belanda berhasil menduduki Bangkinang, penduduk yang ketika itu tiak menduga Belanda dapat memasuki Bangkinang menjadi cemas dan ketakutan, kemudian berusaha menyingkir keseberang Bangkinag sedangkan yang berada dipekan Bangkinang diancam dengan senjata yang siap dimuntahkan untuk tidak melakukan perlawanan, beberapa orang kepala suku yang berada dipekan Bangkianang berhasil ditangkap kemudan ditawan, termasuk  Dubalang Jelo yang diduga terlibat pembunuhan Clifford.

Rumah penduduk disekitar pekan digeledah segala persenjataan tajam disita, oleh pihak Belanda kemudian diumumkan agar semua kapala suku di Bangkinang menyerahkan diri kepada Belanda diperkemahan Belanda di Bangkinang.


Sore harinya pukul lima kepala - kepala suku dari Artiris menyerahkan diri kepada Belanda, dan oleh Belanda dkeluarkan perintah agar kepala suku di Airtiris memperbaiki jalan menuju Airtiris agar hubungan Bangkinang Airtiris dapat dialalui Belanda dengan lancar.


Kepala - kepala suku yang dicurigai malam itu ditahan namun Datuk  Bandaro sati dan Tabano serta Seribu Garang tak berahsil mereka tangkap, sedangkan Marjan an Daud Salim telah menyingkir lari kedalam hutan.


Malam harinya ketika Belanda mengadakan pemeriksaan di kemah tawanan ternyata kepala - kepala suku kenegrian Bangkinang sudah tidak ada  akhirnya diketahui bahwa kepala - kepala suku itu telah melarikan diri, pada malam itu juga oleh komandan expedisi diperintahkan para prajurit dibawah komando Stein untuk menangkap pucuk adat Datuk Bandaro Sati dan Datuk Tabano serta Seribu Garang, Daud Salim dan Marjan yang diduga sebagai pemberontak yang membocorkan rahasia kompeni Belanda si Pulau Godang.


dengan penunjuk jalan indo sampono serta rajo selo, kompeni bergerak menuju kampung pulau tempat kediaman pucuk adat datu bandaro sati.


PENANGKAPAN DATUK BANDARO SATI OLEH BELANDA


Melaui penunjuk jalan setelah menyeberang sungai Kampar dengan perahu pada pukul emapt tiga puluh menit pagi (04.30) tanggal 29 agustus tahun1899 hari selasa serdadu Kompeni sampai dikampung Pulau kemudian menuju rumah Datuk Bandaro Sati.


Datuk Bandaro Sati mendengar panggilan Raja Selo kemudian terbangun dan membuka pintu rumahnya, namun setelah pintu dibuka kompeni Belanda dengan senjata ditangan mengancam agar Datuk Bandaro Sati menyerahkan diri kalu tidak seisi rumahnya akan dibunuh, pucuk adat itu tidak dapat berkata-kata apa-apa kecuali berserah diri pada yang maha kuasa, melawan berarti seisi kampung Pulau akan binasa, karena disekeliling rumah telah siap pasukan Belanda dengan peluru-peluru panas yang siap dimuntahkan.


Kepala - kepala adat itu kemudian digeledah di dalam rumah selain Datuk Bandaro Sati didapati tiga laki-laki antara lain Tayib dan istri Datuk Bandaro Sati serta anak-anaknya. Ketiga laki-laki itu kemudian ditangkap setelah diminta keterangannya akhirnya malam itu juga dibunuh Belanda.


Datuk Bandaro Sati kemudian diseret ke halaman atas anjuran Spionase Belanda leher Datuk Bandaro Sati dijepit dengan bambu yang dibelah bagai salib, sedangkan tangan kiri dan kanan diikatkan pada bambu tersebut, semakin lama leher pucuk adat semakin terasa perih mengeluarkan darah, dalam keadaan teraniaya pucuk adat dipaksa menunjukkan rumah Datuk Tabano.


Subuh itu juga Pucuk Adat Datuk Bandaro Sati diseret kearah rumah Datuk Tabano melalui jalan sungaia sedangkan sebahagian pasukan kompeni mengawasi melalui jalan darat ditepi sungai Kampar pada pukul lima pagi pasukan Belanda serta Datuk Bandaro Sati yang tertawan sampai Kampung Gadang, sesampai di Kampung Gadang kemudian di suruh menunjukkan rumah Datuk Tabano yang tak berapa jauh dari sungai Kampar.


PERLAWANAN DATUK TABANO MELAWAN BELANDA

Malam itu datuk tabano mendapat firasat, rambutnya yang panjang berdiri bagai diterbangkan angin, ini pertanda bagi dirinya akan datang cobaan yang harus dihaapinya, matanya malam itu sulit dilelapkan, anaknya yang Habibah sebentar-sebentar menangis, anak itu kemudian digendong oleh Halimah si istrinya dan di masukkan dalam buatan rotan, kemudian sayup-sayup kedengaran di atas tempat tidur Abdullah anaknya yang tertua tertidur pulas, seakan –akan tidak mengetahui apa yang menjadi pikiran ayahnya malam itu.


Tabano kemudian duduk ditepi ranjang kemudian ditatapnya Abdulla yang tertidur pulas, terdengar suara istrinya Halimah “ kenapa belum tidur juga Tuk ?. apa yang datuk pikirkan ?... “ Entahlah Halimah’ jawabnya ‘ Perasaan ku rasanya kurang enak” ulasnya.., Halimah kemudian berusaha menenangkan suaminya “ Serahkan sajalah pada yang maha kuasa tuk, kita harus bertawakal, kan datuk juga yang menunjukkan cara yang demikian kepada saya”… “ benar Halimah” tapi firasatku menunjukkan malam ini aku harus berjuang sampai titik darah terakhir “ kata Tabano.


Sementara itu pasukan kompeni Belanda pada pukul lima leawat lima belas menit (05.15) pagi telah sampai diperkarangan rumah Datuk Tabano, Datuk Bandaro Sati diseret secara keji dibawah ancaman senjata Belanda, lehernya dijepit dengan bambu semakin banyak mengeluarkan darah, rasa perih yang mendalam yang dirasakan oleh pucuk adat itu, sementara itu pasukan belanda dikerahkan, menjaga setiap sudut rumah Tabano.


Beberapa orang prajurit dengan senapan ditangan disiagakan didepan intu rumah Tabano, oleh Stein untuk menyuruh Tabano menyerahkan diri, pintu rumah Tabano pun di geedor.


Selanjutnya terdengar suara Bandaro Sati lirih rang kayo Datuk Tabano……., tiang panjang dalam negeri sendi batu rumah nan gedang…pelampung negeri Limo Koto,,,, saya dipaksakan oleh Belanda…menyuruh Datuk untuk menyerahkan diri, jangan sampai mengadakan perlawanan, leher hamba dijepit dengan bambu tangan diikat keduanya…tidak kuasa melawan lagi, menyerahlah Datuk Tabano tengganglah anak kampung dan halaman, teganglah anak kemenakan penduduk Limo Koto jangan sampai binasa air mata Bandaro Sati membasahi pipinya, dihatinya berkecamuk berbagai perasaan antara tanggung jawab sebagai pucuk negeri pusat jala pumpunan ikan, sebagai seorang yang telah membuat janji sehidup semati dengan Tabano, dia dihadapkan kepada cobaan yang sulit melawan berarti kehancuran bagi Limo Koto dan pasti anak kemenakan akan menjadi apa saja yang dikehendaki orang putih itu.


Tabano yang dari tadi mendengar kata-kata Datuk Bandaro Sati menyentak pedangnya wajahnya geram jiwanya memberontak seakan – akan di telannya apa yang datang, ia menarik nafas panjang kemudian menengadah ke atas mulutnya komat kamit membaca doa, kemudian diambilnya destar pengikat rambutnya didestar ini pulalah tersimpan berbagai wafak yang tak pernah dilupakan Tabano ktika menghadapi musuh.


Istrinya melihat keadaan tabano yang demikian memberi keyakinan  kepada tabano dengan berkata “ Datuk dengarkan saya” Datuk Palimo kata orang pantang melangkah surut, harimau pantang menganjak gigit, jelaskan sajalah pada Datuk Bandaro Sati yang dari tadi di Halaman, tapi manis jangan cepat ditelan, pahit jangan cepat datuk muntahkan. Hulubalang di pintu mati  orang banyak di pintu hutan.


Kata - kata istrinya itu membuat keyakinannya bertambah teguh, dengan tenang ia bercerita “ masuklah engkau ke dalam, selamatkan dirimu dan anak-anak, halimah kemudian masuk kedalam kamar kedua anaknya digendongnya.


Tabano kemudian mendekat kepintu kedengaran suaranya Datuk Bandaro Sati dengarkan saya, kilat balitung telah kekaki, kilat kaca telah kemuka, tentang permintaan datuk untuk menyerah tak dapat saya kabulkan saya teguh pada janji setia pada sumpah, saya hanya akan menyerah pada yang satu. Saya akan tetap berjihad, katakan pada belanda itu, walau ke langit mereka menjemur namun cucian takkan kering.


Suruh saja mereka naik kalau ingin manangkap hamaba, mendengar kata – kata tabano belanda merasanya usahanya untuk membujuk tidak berhasil kemudiam memerintahkan anak buahnya mendobrak pintu rumahnya, pintu rumah terbuka dua orang serdadu itu menerobos masuk namun malang bagi serdadu itu pedang ditangan tabano telah menghabisi nyawa mereka, kemudian menyusul beberapa orang serdadu akhirnya mati juga ditangan tabano, seseorang serdadu pada kulit putih kemudian melepaskan tembakan kepada tabano, namun peluru yang dilepaskan berkali kali itu tidak merobek dan menembus tubuh tabano, serdadu itu menjadi penasaran kemudian menyerang dengan sangkur yang terpasang diujung senapangnya, namun langkah pangiyan tabano lebih sigapdari gerakan serdadu itu,ketika tabano memecah kesunyian subuh itu dengan mengucapkan kebesaran allah “Allahuakbar, Allahuakbar” ucaoanya berkali-kali,dua orang serdadu masing-masing “Apel. No pengenal 48072 dan Dema no. 3209” menerobos masuk kerumah, seseorang diantaranya menghantamkan pedangnya kearah Tabano, dengan sigap tabano mengelakan, kemudian menembaskan pedangnya pula kearah serdadu itu, serdadu itu meringis menahan sakit karena lengan putus disambar pedang Tabano.

Dema no. 3209 melihat keadaan tersebut dengan membabai buta menyerang sambil mengayunkan pedangnya kesana kemari, namun tak ada yang mengenai tubuh Tabano, malah sebaliknya pedang tabanolah yang merobek perutnya. Melihat keadaan itu seorang sersan Belanda Smith mencoba menyerang Tabano, Tabano melompat mengelak, Smith jatuh tersungkur, namun ketika Tabano hendak melompati Smith kembali, kakinya terkerincir ditikar yang  telah licin kenah darah itu, dia terjatuh dester dikepalanya terlepas, saat itu perwira Belanda Steinyang sudah lari dari tadi berdiri siaga dipintu rumah melihat kesempatan itu melepaskan tembakan kearah tubuh Tabano, peluru senapan Stein yang telah disiapkan sejak awal setelah mengetahui kelemahan Tabano itu akhirnya menembus tubuh Tabano, Stein kemudian melihat dester Tabano yang terlepas itu memburunya kemudian menghujamkan sangkurnya keleher Tabano, Almujahid itu tak menahan  sakit hanya kalimat kebesaran Allah terus keluar dari mulutnya.


Tuanku Larasyang memperhatikan kejadian itu tersenyum dikulum, usahanya untuk membeberkan kelemahan ilmu Tabano kepada Balanda telah berhasil menurutnya, peluru senapan Stein yang terbuat dari emas memang dirancang tuanku laras dari semula unntuk membunuh bangsa nya sendiri. Akhirnya Tabano menghembuskan nafas terakhir pada subuh itu selasa 29 Agustus 1899, Stein berdiri termangudihadapan mayat Tabano,sejenak kemudian berjongkok tanganya meraba bahagian kening almujahid itu, kemudian dia berdiri dan menunduk bagai memberi penghormatan terakhir pada almujahid itu.
Stein kemudian memerintahkan untuk mengeladah rumah tabano,dari penggeledahan didapat berupa senjata tajam tombak dan sepucuk pistol karena hari sudah berabgsur pagi dan penangkapan terhadap Marjan dan Daud Salim tak mungkin dilakukan,setelah mendapat informasi kedua orang itu telah melarikan diri maka kepada pucuk adat diperintahkan, untuk menyuruh seribu garang menyerahkan diri kepada belanda, kalau tidak mayat datuk tabano tidak akan boleh dikuburkan.


Beberapa orang serdadu belanda diutus bergerak menuju rumah seribu garang, seribu garang setelah mendengar ancaman belanda merasa kasihan dengan penderitaan yang ditanggung tabano. kalau dia tidak menyerahkan diri akan teraniayahlah mayat almujahid itu, akhirnya seribu garang terpaksa menyerah kepada kafir itu.


Seribu garang kemudian ditangkap dan dilakukan penganiayaan terhadap dirinya, seribu garang kemudian dimasukkan kedalam sebuah tong bulat terbuat dari papan keras, tong tersebut kemudian digulingkan dari atas sebuah bukit, namun ketika tong itu sampai dibawah bukit dan tak cederah seribu garang akhirnya dibawah kepangkalan dengan penderitaan yang lebih parah, seribu garang dimasukkan kedalam drum minyak yang telah kosong sedangkan bagian atas drum itu ditutup dengan rapat, kemudian digulingkan dijalanan, namun sampai dipangkalan seribu garang masih belum menemui aajalnya, akhirnya seribu garang ditahan Kamp tawanan didigul.


MAKAN ALMUJAHID DATUK TABANO

Hari itu setelah seribu garang menyerahkan diri, dan ketika tabano hendak dimakamkan timbul lah niat buruk dari kompeni belanda hendak memisahkan pemakaman bahagian kepala dan bagian tubuh tabano, belanda merasa khawatir kalau tabano dapat hidup kembali, akhirnya pucuk adat memohon agar tabano yang telah wafat itu jangan disakiti lagi, dan memberikan jaminan dirinya kalau seandainya tabano hidup kembali, permintaan pucuk adat  itu pun dikabulkan. Setelah diselamatkan secara agama islam mayat tabano pun dimakamkan di pemakaman keluarga isteri nya tanjung.


Setelah 40 hari dimakamkan dipemakaman tanjung, kemudian atas permintaan persukuan dan kemenakan serta disetujui oleh pihak isterinya, makan almujahid itu dipindahkan kepemakaman suku melayu Datuk Tua Dikampung UAI. suatu keanehan diluar pemikiran manusia ketika membongkar makam tabano dilakukanternyata tubuh almujahid itu tidak rusak atau dimakan tanah, rambutnya bertambah panjang dan mayat nya tidak berbau busuk, entah rahasia apa yang tersembunyi diatas peristiwa tersebut “Wallahualam bisswab” hanya allah y6ang maha mengetahui. dikampung Uai inilah akhitnya beliau beristirahat dengan tenang, kampung dan tanah kelahirannya.


PERJANJIAN BELANDA DENGAN NINIK MAMAK LIMO KOTO

Dua hari setelah terbunuhnya Datuk Tabano hari itu 31 Agustus 1899 diadakanlah perjanjian antara Belanda dengan Ninik mamak Limo Koto yang antara lain:
- Pihak Belanda membebaskan kepala-kepala suku yang ditawan Belanda.
- Rakyat Limo Koto dikenakan denda atas kerugian Belanda di Pulang Gadang.
- Rakyat Limo Kotto harus tunduk dibawah pemerintahan Belanda.

Pada hari itu setelah perjanjian dibuat, pihak Belanda pun mengadakan perayaan memperingati hati ulang tahun sri ratu Belanda sementara itu pengumpulan senjata-senjata dari pendududk terus dilakukan oleh tim expedisi.

Demikianlah sehak terbunuhnya datuk Tabano dan ditandai perjanjian antara Belanda dengan rakyat kepada rakyat Limo Koto 31 Agustus 1899 maka Limo Koto jatuh kepada Belanda, segala kegiatan pemerintahan mulai diatur di Bangkinang oleh pihak Belanda, sehingga Bangkinang menjadi daerah onder afdeling.


PENUTUP

Kepada pembaca dan masyarakat Limo Koto Kampar, kami memohon maaf sebesar-besarnya andaikan ada hal-hal yang salah dan tidak pada tempatnya, karena kami menyadari kitab yang kami susun ini tentu banyak hal-hal yang berkaitan dengan sejarah kepahlawanan datuk Tabano dan perlawanan rakyat Limo Koto yang belum terungkapkan, walau berbagai usaha telah dilakukan oleh penyusun sesuai dengan kemampuan yang ada.


Kepada ninik Mamak, tokoh adat pemuka masyarakat yang telah memberikan informasi kepada kami, kami ucapkan terimah kasih sebesar-besarnya, dan kepada rekan penulis didaerah, marilah saling bekerja sama untuk kita bangkitkan kembali, guna mengisi pembangunan dinegara yang kita cinta ini, sesuia dengan bidang kita masing-masing.





Share
comments
Last Updated on Monday, 22 October 2012 14:05
 

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini238
mod_vvisit_counterkemarin319
mod_vvisit_counterminggu ini990
mod_vvisit_counterminggu lalu4228
mod_vvisit_counterbulan ini7843
mod_vvisit_counterbulan lalu8809
mod_vvisit_countersemua hari216508

We have: 7 guests online
Your IP: 54.224.225.86
 , 
Today: Aug 20, 2014
Visitors Counter

Voting

Buku Apa Yang Anda Sukai ?
 



Created by Pustaka-arsip-kampar.